Sabtu, 26 Juli 2008

Forgiveness…

Forgiveness…

Mendadak, aku tertarik untuk share tentang forgiveness. Bahasa indonesianya mah pengampunan. ^^’

Ngomong-ngomong soal minta maaf, belakangan ada sebuah kalimat yang terlintas di pikiranku. Kalimatnya begini, “ usahakanlah agar kamu jarang meminta maaf”. Coba, kira-kira apa tuh maksudnya???

Nonono, bukan! Bukan itu! Kalimat ini bukan berarti enggan, gengsi dan tengsin meminta maaf ketika membuat kesalahan. Bukan itu maksudku. Yang sedang aku maksudkan di sini adalah, aku harus berusaha supaya aku gak melakukan sesuatu apapun yang mengharuskan aku meminta maaf. Kalimat sederhananya, “usahakanlah agar kamu jarang membuat kesalahan”. Gitu lho…

Ngomong-ngomong soal meminta maaf dan memaafkan, kayaknya kita dikalahin sama anak kecil deh… mereka kelihatannya lebih pinter soal beginian. Dulu pernah ada kejadian di rumah. Ada seorang anak berantem sama temennya (tetanggaan gitu). Namanya anak kecil, apa-apa pasti ngadu dan punya mantra andalan, “gua bilangin ke mama lho… awas ya!!!” :D

Gawatnya kedua anak ini sama2 ngadu dan akhirnya konflik 2 anak balita ini berujung kepada konflik 2 ibu rumah tangga. Lucunya, besoknya si dua anak ini udah main bareng lagi. Sedangkan 2 ibu rumah tangga ini baru baikan setelah beberapa bulan kemudian. Hhhh… pertanyaanku, yang punya mental anak kecil tuh yang mana ya?

Aku benar-benar kagum dengan sosok seorang anak kecil. Mereka tuh polos, mudah mengampuni, dan gak malu2 untuk minta maaf. Kita ikutin yuk!!! ^_^

Aku jadi inget pada sebuah perumpamaan yang dikasih sama TUHAN Yesus di kitab Matius 18:21-35.

Aku mau nyoba nyeritain perikop ini dengan gayaku sendiri ya… ditambah sedikit imajinasi (kata si spongebob mah). :P

OK…

Perumpamaan tentang pengampunan

Di sebuah negeri nan jauh di sana, hiduplah seorang raja yang memerintah. Raja ini begitu makmur sehingga hartanya tak terhitung banyaknya. Karena baik hati, raja ini suka sekali membantu rakyatnya yang miskin dengan cara memberikan pinjaman uang dengan syarat harus dikembalikan pada tempo tertentu dan baiknya lagi, raja ini tidak memberikan bunga sepeser pun untuk seberapa banyak pun uang yang dipinjam.

Suatu kali, tibalah saatnya seorang bapak untuk membayar utang kepada sang raja. Bapak ini dipanggil dan dihadapkan pada raja. Setelah dihitung-hitung, ternyata bapak ini memiliki utang sebanyak 10.000 talenta (perlu diketahui, talenta pada masa itu adalah satuan nilai uang yang digunakan 1 talenta=6000 dinar). Berarti utangnya 10.000x6000 dinar=60.000.000 dinar. Wow!!!

Tapi malangnya, bapak ini miskin. Dia hanya memiliki sedikit uang yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan utangnya pada raja. Lalu bapak ini berkata kepada raja, “Baginda Raja, hamba sungguh-sungguh tidak sanggup membayar utang-utang hamba yang demikian banyaknya. Kiranya raja memberikan kebijaksanaanmu kepada hambamu ini.”

Raja yang baik hati ini lalu berkata, “Bagaimana jika kau beserta anak dan isterimu dijual untuk membayar utang-utangmu itu?” (dijual di sini berarti direlakan untuk menjadi budak tanpa gaji). Namun, setelah dihitung-hitung, sekalipun orang ini dijual beserta anak dan isterinya, tetap saja masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan utang-utangnya kepada raja. Ck…ck…ck…

Lalu bapak ini berkata, “Raja… berikanlah hamba yang hina ini kebijaksanaanmu! Bersabarlah terhadap hambamu yang miskin ini, karena hamba rela melakukan apa saja untuk membayar utang-utang hamba pada baginda raja!Tolong berikanlah hamba perpanjangan waktu PliZzzz…”

Lalu karena raja ini memang baik hati, akhirnya raja berbelas kasihan kepada bapak ini dan akhirnya dia tidak hanya memperpanjang masa jatuh tempo pengembalian utang, tapi sekalian melunaskan utang hamba yang miskin ini. WOW… AMAZING!!!

Wah, kalo saya jadi orang ini sih… ck…ck…ck… seneng banget yak? Ok back to the story. Nah akhirnya si bapak ini keluar dari istana dengan sangat bersukacita. Hepi abisss lah… pastinya senyum dan riang banget. Secara, utangnya yang gede bengkak gitu dilunasin gitu aja ama raja. Nah, di pintu gerbang istana, dia melihat seorang mas-mas sedang berjalan. Begitu melihat mas-mas ini, si bapak yang roman wajahnya tadinya riang gembira dan hepi, tiba-tiba berubah jadi agak marah campur garam eh… geram.

“Woiiiiiiiiiiii!!! Gila lo yah? Hare gene lewat depan muka gue, lempeng aja.”, teriak bapak yang telah lunas utangnya ini.

“Hah? Ah Pak, maaf saya tadi gak liat.”, kata mas-mas ini.

“Dasar anak muda, bisa aja lo ngeles-nya. Sekarang hari apa hayo??? Jujur! Jangan pura-pura demensia alias pikun.”

“…………” anak muda ini diam seribu satu bahasa.

“Tuh kan pura-pura atau beneran pikun lo? Hare gene lupa sama utang??? Buruan bayar utang lo… gue mu beli pulsa neh…!”

“Maaf Pak…uang 100 dinar yang saya pinjam 3 bulan yang lalu tuh, belum bisa saya bayar pak… berikanlah saya! Bersabarlah terhadap hambamu yang miskin ini, karena saya rela melakukan apa saja untuk membayar utang-utang saya. Kasih perpanjangan waktu lagi Pak! PliZzzz…”

“Halah anak muda sekarang jago ngerayu ternyata. Ohhh… jadi lo gak bisa bayar utang lo??? Denger ya, gue udah gak bisa sabar lagi. Yang butuh uang tuh bukan Cuma lo, gue juga butuh… Gue juga masih manusia coy… masih butuh uang…”, dengan kasarnya bapak ini ngomong sama si mas-mas.

Karena terlalu marah dan esmosi, bapak ini gak bisa nahan tangannya untuk mencekik si mas-mas yang punya utang 100 dinar padanya. Beruntung ada seorang penjaga gerbang istana yang menyelamatkan si mas-mas. Gawatnya, si penjaga istana ini buru-buru nyuruh temennya untuk lapor sama baginda raja, bahwa ada perkelahian di depan gerbang istananya.

Tak lama kemudian, raja ini datang. “Hei…hei hei ada apa ini ribut-ribut?”, Tanya baginda pada penjaga gerbang istana. Lalu si penjaga gerbang itu menceritakan semuanya pada raja dengan sedetil dan sejelas dan semirip mungkin dengan kejadian asli.

Setelah mendengar apa yang telah dilakukan bapak ini terhadap mas-mas yang punya utang padanya, geramlah sang raja lalu berkata, “Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihanimu?”

Akhirnya raja memanggil para prajurit untuk membawa bapak ini ke dalam istana. Di dalam istana, dia dipaksa bekerja sekeras mungkin sampai ia dapat melunasi seluruh utang-utangnya.
The End
Diadaptasi dari Matius 18:21-35

See? Ini bukan sekedar cerita sebelum tidur atau dongeng di sebuah negeri antah barantah. Tapi, saya sedang memberi contoh betapa egois dan menjijikannya orang yang tidak mau memaafkan orang lain.

TUHAN kita yang maha besar dan memiliki segala kemuliaan juga kesempurnaan aja memberikan maafnya kepada kita. Masak sih kita gak bisa memberikan maaf seperti DIA? Anak siapa sih lo?

Kalo emang kita gak bisa memberikan maaf, itu artinya, kita sama seperti bapak yang tadi. Ih malu-maluin aja…

Satu hal lagi yang menarik, ketika kita tidak mengampuni orang lain, ada konsekuensi yang begitu mengerikan yang jadi balasannya. Seperti bapak yang tadi tuh… TUHAN emang penyabar, tapi dia juga benci sama orang yang gak tahu caranya bersyukur.

Oia hampir lupa, tidak mengampuni biasanya juga berujung pada pembalasan dendam. Sama aja, mereka kembaran, akibatnya juga hampir sama.

Mmmmh… ada yang pernah nonton film Spiderman sekuel ke-1??? Pastilah, saya yakin udah semua. Inget gak, ada satu scene, di mana si Peter Parker marah karena habis tinju, dia menang, eeeh gak dibayar sesuai dengan janji. Nah, di situ dia gak ada niat sama sekali untuk memaafkan si bos yang bayar dia. Saya simpulkan begitu karena, begitu ada pencuri yang merampok uang milik si bos itu, si superhero ini bukannya bantuin malah ngedukung si rampok dengan cara ngelolosin si rampok waktu naik lift. Ini sama aja balas dendam khan??? Inget gak, pulang dari situ pamannya Peter dibunuh, dan begitu Anda ingat siapa pembunuhnya, maka Anda akan terkejut dan mengerti betapa tidak baiknya pembalasan dendam itu. Hhaahah… unik memang…

Well… saya berharap posting yang begitu panjang ini bisa memberikan sesuatu di neuron2 yang baca. Buat yang masih punya salah dipendam, buruan minta maaf, and buat yang belum memaafkan orang yang punya salah, sekalipun orangnya belum minta maaf, maafkanlah… milikilah hati emas!!!

Akhir kata, kalo udah baca, saya mengundang Anda2 untuk mengisi comment ya… share apa yang kalian dapetin. Pro or kontra, saya akan sangat menghargai. Ok… Tapi saya yakin banyak yang pro dengan saya ^^ (optimis banget sih logh).

Akhir kata, jadilah orang yang memaafkan. GOD says, “Forgive them, for I’ve forgiven you!!” (translate: maafkanlah mereka karena AKU juga telah memaafkanmu.)

Akhir kata lagi,
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masinf-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.
>>>Matius 18:35 LAI

So My heavenly Father also will do to you if each of you, from this heart, does not forgive his brother his trespasses.
>>>Matthew 18:35 NKJV

3 komentar:

  1. Wow, itu adalah reaksi pertama setelah baca postingan panjang ini, keren lah, ternyata masih ada orang yang cinta dengan tulisan2/ayat2 kitab agama sendiri, karena hari gini, orang yang taat beragama, selalu dianggap seolah-olah kaku, dusun, gak maju lah dll..... nice post neh rere.... eh, ngomong2 maaf ya kalau aku punya salah...heheh, kapan ya rere posting koment di blog aku...huahuahuha

    BalasHapus
  2. Weleh, weleh... ampe keringetan bacanya :p it's along post but worth.
    Pertanyaan nya sih gmna cara Qta ngajarin ma anak2 kecil masa kini, bahwa memaafkan itu sangat mudah, seperti membalikan telapak tangan sebenarnya. We just need a moment to step away from the person and came back with an open mind. Sebenarnya, kadang orang mendendam karena dia merasa, bahwa ia ga butuh orang lain. Padahal ank2 bisa langsung memaafkan karena ia merasa "Wah, klo musuhan nanti maen ma sapa, yach!"
    Kenapa qta ga bisa kayak gitu, kadang muncul sifat angkuh, sombong, merasa bahwa diri as most needed person sih kayaknya...halah, halah, jd kepanjangan.. pokoke...kata temen qu mah "Bebaskeun weh, bebaskeun..! Tonk jadi beban..."

    ps: re-comment yach at my blog

    BalasHapus
  3. @Oom ingus
    Yahh... anggap aja ini implementasi oom . Hehehe. Posting komen? bisa diatur.

    @Oom aris
    We just need a moment to step away from the person and came back with an open mind.
    Nice words!

    BalasHapus

Comment anything, ask me anything :)