Kamis, 29 Desember 2016

Menanam Terung Ungu Organik di Atap Rumah

Saya pernah baca entah dimana, katanya jaman sekarang, tidak ada lagi yang namanya makanan sehat, "our food has been hijacked", katanya. Memang benar sih. Kalau dipikir-pikir, segala macam tambahan pada produk makanan, kebanyakan bukan ditambahkan agar berdampak baik buat tubuh kita, melainkan untuk menambah daya jual atau nilai produknya. Pewarna, penyedap, perisa aneh-aneh, pewangi, bahkan produk-produk yang menyatakan dirinya mengandung buah asli pun komposisi utamanya perisa, buah aslinya kebanyakan tidak sampai 10%. Sedih... Bahkan ya, belakangan saya baru tahu kalau vitamin c yang ditambahkan pada minuman teh kemasan, ternyata bukan untuk mencegah tubuh kita dari sariawan, melainkan sebagai antioksidan biar tehnya nggak cepat rusak. Pedih rasanya.

Makanan kita telah dibajak, salah satu pilihan yang bisa kita usahakan adalah menanam sendiri makanan kita, secara organik tentunya. Nah, berbicara tentang sayur, setelah mencoba menanamnya, ternyata terung a.k.a. terong, ternyata cukup mudah ditanam, dan nilai plusnya, bisa berkali-kali panen. Tidak seperti kangkung atau sawi-sawian yang maksimal paling hanya 2 kali panen. Selain itu, sepertinya terung tidak rakus nutrisi, ditanam di tanah yang biasa-biasa saja, tetap tumbuh tuh.

Baiklah, kita mulai dari menyemai benih. Benih terung bentuknya mirip benih tomat (maklum, mereka sama-sama keluarga solanum), berwarna putih gading dan cukup keras. Saya menyemainya di media semai dengan komposisi sekam bakar, sekam, cocopeat, dan kompos. Entah berapa persen, karena saya gunakan media yg sudah jadi. Benihnya cukup dikubur di kedalaman kurang lebih 1 cm. Lalu disemprot setiap hari. Ohya, saya menggunakan pot berdiameter 10 cm, tinggi 7 cm. Perkecambahan lumayan cepat, sekitar 1 minggu, benda mati itu telah hidup menjadi seedling. *tsah

Seperti prosedur menanam pada umumnya, setelah berdaun 4, baru saya pindahkan ke pot yang lebih besar, diameter 17 cm.

Seedling terung dalam pot berdiameter 17 cm

Pertumbuhan dari seedling menjadi tanaman dewasa kurang lebih 1-2 bulan, tergantung asupan gizi dan sinar mentari :)
Terung cukup mandiri, tidak membutuhkan penyiraman yang terlalu banyak, mesko ditanam di pot. Karena potnya kekecilan, saya pindahkan lagi ke gardening bed berukuran 1.5 x 0.5 meter. Muat untuk 2 pohon, ditambah tumpang sari aneka rumput dan kacang-kacangan, dan ditanam di rooftop rumah lantai 2. Ohya, hati-hati dengan tanaman terung yang mulai dewasa, saya baru tahu kalau dia punya duri, dan lumayan tajam.

Setelah dewasa, tanpa babibu, tanaman terung akan cepat berbakti, menghasilkan bunga-bunga berbentuk bintang, berwarna pink keunguan. Sayang sekali saya nggak menyimpan fotonya. Kalau mau membayangkan, ingat saja bunga tomat, tetapi warnanya bukan kuning, ganti menjadi pink keunguan, itulah bunga terung.

Setelah berbunga, bunga akan rontok dan berganti menjadi bakal buah. Karena tidak rewel, saya hanya perlu memberikan pupuk sesekali. Pupuk yang saya gunakan, pupuk organik sisa makanan, buatan sendiri, dan juga eek kambing.

Kelopak bunga rontoks

Kalau sudah dewasa begini, perkembangannya pesaaaat sekali. Kamu hanya membutuhkan kurang lebih 2-3 minggu menunggu dari bunga menjadi panen terung.

Habis bunga terbitlah buah

Satu pohon terung bisa menghasilkan sampai 8 bunga. Lalu, dia bisa mengalami lebih dari 4 kali masa berbunga. Bayangkan gaes, kamu bisa panen sebanyak 32 butir terung dari seiprit biji itu. Oh, kalau saya pengangguran, saya akan bisnis terung crispy saja.

Jangan terlalu tua memanen terung karena rasanya jadi tidak yahut, agak-agak pahit gimanaa gitu. Ketika ukurannya cukup panjang, langsung saja dipanen. Makin muda, makin enak rasa dan teksturnya.

Seminggu lagi sudah layak dipanen :3

Sebetulnya selain terung ungu panjang ini, saya juga pernah menanam terung hijau bulat yang biasa dilalap pakai sambal ituloh, hanya saja hasilnya kurang yahut, mungkin nanti coba lagi. Ada juga benih eggplant black pearl (namanya terung kok kayak nama batu giok) yang belum sempat ditanam. Nanti kalau saya sudah berhasil menanamnya, saya cerita lagi boleh ya.

Anyway, menanam terung tidak sulit dan hasilnya cukup yahut. Dicoba deh gaes, jangan lupa beli benih yang organik. Kebanyakan benih terung yang dijual online, sudah diberi fungisida, jadi warnanya agak-agak pink gimanaa gitu. Cara membedakan benih organik dan non-organik adalah dari warnanya. Benih organik, warnanya masoh alami, putih gading, atau gading kecokelatan karena mengalami pengeringan.

Kalau kamu mau menyimpan benih dari hasil panen sendiri, pilih buah yang paling sehat dan oke, lalu biarkan hingga tua di pohon, kalau buahnya sudah berwarna kekuningan, dia sudah siap dipetik dan diambil bijinya :)

Yuk menanam terung.
#gogreen #goorganic

Selasa, 27 September 2016

Menanam Purple Ruffles Basil (Basil ungu :3)

Wah, sudah cukup lama juga nih saya tidak update mengenai kegiatan saya bermain tanah. Hehehe... Baiklah, kali ini saya akan posting mengenai pengalaman saya menanam basil. Bukan sembarang basil, kali ini saya menanam jenis basil yang cukup unik, yaitu Purple Ruffles Basil. Berbeda dengan red basil yang daunnya masih mengandung unsur kehijauan, basil ungu ini benar-benar hampir seluruh daunnya berwarna ungu kemerahan. Cocok sekali menambah warna di kebun herbs kamu.

Kita mulai dari bijinya dulu ya... Berdasarkan pengamatan saya, hampir semua jenis basil, bijinya begitu-begitu saja. Berwarna hitam, mini, dan lonjong. Jadi, jangan sampai tercampur yaa... Berikut penampakan bijinya:

Benih Basil Purple Ruffles
Waktu itu saya menanam lebih dari 3 benih, karena berdasarkan pengalaman, semakin banyak benih yang ditanam, kemungkinan tumbuh semakin banyak. Yang bikin bingung, kalau ternyata numbuh semua, and there is no space no more. Hahaha... --> masalah klasik

Saya menggunakan media yang terdiri dari campuran sekam, sekam bakar, kompos, cocopeat, dan tanah. Pot semai yang digunakan berdiameter 10 cm, tinggi 7 cm. Tidak ada yang spesial dalam cara menabur benihnya, hanya diletakkan di permukaan media, lalu ditutup lagi dengan media, kurang lebih 0.5-1 cm, lalu agak ditepuk-tepuk dan dirayu-rayu dikit agar mau cepat tumbuh :p
Saya biasa meletakkan pot semai indoor, karena kalau diletakkan outdoor, terlalu banyak gangguan. Cahaya yang menyebabkan etiolasi lah, belalang yang hobi makanin sprout lah, tikus lah, bahkan kucing tetangga. Penyiramannya dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore dengan menggunakan sprayer. Tidak perlu terlalu banyak sampai tumfeh-tumfeh segala, cukup membuat medianya lembab saja.

Basil adalah salah satu herbs yang mudah sekali tumbuh dari benih. Kurang dari seminggu, tanda-tanda kehidupan sudah mulai terlihat. Tunas-tunas kecil menyerupai payung berwarna kemerahan muncul di permukaan media. :3

Basil usia satu minggu

Setelah sprout, waktunya mereka diajak melihat dunia (dibawa ke luar rumah maksudnya) untuk menghindari terjadinya etiolasi, yang gejalanya terlihat jelas dengan bentuk batang yang tinggi kurus ke arah datangnya cahaya. Tidak semua sprouts yang tumbuh berhasil menjadi dewasa ketika dibawa ke outdoor. Selain gangguan-gangguan yang saya sebutkan tadi, daya tahan dan nasib masing-masing sprout juga sangat menentukan.

Setelah dibawa outdoor, mulai tumbuh daun sejatinya. Awalnya berwarna ungu kemerahan, lalu lama-kelamaan muncul warna hijau. Ah, warnanya cute sekali. Suka deh...

Daun sejati mungil tumbuh diantara 2 daun pertama
Oia, sekedar tips untuk menjaga agar bayi-bayi ini tetap survive, salah satunya bisa disiasati dengan menggantung pot. Memang sih, tidak bisa menghindarkannya dari  belalang, tapi setidaknya kucing dan tikus lumayan terhindarkan.

Selanjutnya daunnya akan tumbuh membesar dan agak melengkung. Tidak perlu terburu-buru melakukan repotting, karena biasanya ketika jumlah daun masih empat, akar tanaman belum terlalu kuat untuk diganggu.

Basil purple ruffles usia 2.5 minggu
Repotting dianjurkan dilakukan ketika jumah daun minimal 6 helai. Di saat itu, gangguan terhadap akar (biasanya terjadi ketika kita memisahkan tanaman dari kelompoknya) tidak terlalu berpengaruh terhadap ketahanan tanaman. Sebagai gambaran, ini contoh tanaman basil yang siap mendapatkan rumah baru (repotting), jumlah daun 2 daun pertama, 4 daun sejati B-) total 6 daun.

Tanaman basil yang sudah siap hidup sendiri-sendiri
Total ada 3 pot basil yang berhasil bertahan hidup dan melalui tahap repotting.

Gank basil lainnya
Kalau dinilai dari baunya, basil purple ruffles ini baunya mirip dengan perpaduan antara red basil dan sweet basil genovese, Italiano banget. Hihihi...

Setelah masa-masa penyesuaian repotting berakhir, berakhir pula masa-masa kritis. Selanjutnya tinggal menyiram, memupuk, dan merawat saja. Sejalan dengan itu, pertumbuhan basil akan melaju dengan pesat. Dalam waktu 2-3 minggu setelah itu, sudah menjadi tanaman dewasa dan siap untuk bereproduksi menghasilkan biji-biji baru.

Basil purple ruffles dewasa

Warna daunnya menambah warna di kebun
Buat kamu yang suka menikmati pemandangan daun basil yang besar-besar begini, ketika tanamannya mulai berbunga, langsung dipotong yaa. Karena Pemotongan pucuk bunga ini dapat memperpanjang umur tanaman. Ketika kita biarkan dia berbunga, setelah selesai berbunga, biasanya tanaman menua, dan mati. Selain menambah masa hidup, pemotongan pucuk juga berfungsi merimbunkan tanaman sehingga ketika waktunya dibiarkan berbunga, akan menghasilkan lebih banyak cabang dan lebih banyak biji. : )

Yuk menanam basil di rumah, bisa buat pesto sendiri, laksa, dan aneka masakan lainnya.
Jangan lupa, ditanamnya secara organik. Biar sehat dan meningkatkan kualitas tanah. :)

#gogreen #goorganic

Jumat, 15 Juli 2016

Pasona, Perusahaan Jepang dengan Ladang di dalamya

Gedung Pasona (www.dezeen.com)
Bukan hal yang mustahil untuk membangun ladang di dalam gedung bertingkat. Hal ini sudah dibuktikan oleh salah satu perusahaan rekruitmen dengan nama Pasona yang berlokasi di Tokyo, Jepang. Perusahaan ini bukan merupakan gedung dengan tanah sebagai lantainya, melainkan gedung yang terdiri dari 9 lantai. Bersama dengan perusahaan desain Kono Design, mereka membuat sebuah gedung perkantoran dengan Urban Farming sebagai konsepnya.

Tampilan luar gedung pasona (www.dezeen.com)
Begitu melihat tampilan luar gedungnya, orang-orang yang melintas sudah dapat menduga, bahwa gedung ini memiliki konsep hijau. Bagian depan gedungnya dibuat 2 lapis untuk space menanam dengan konsep living wall (tembok hidup). Katanya, yang ditanam merupakan tanaman-tanaman semusim, sehingga, penampilan muka gedung ini akan berganti-ganti setiap musimnya, memberikan pemandangan yang tidak monoton.

Konsep living wall pada muka gedung (www.dezeen.com)
Penggunaan konsep  living wall ini tidak hanya bertujuan mempercantik gedung saja, tetapi juga sebagai isolator panas dan tembok penghasil oksigen.

Ladang padi mini (www.dezeen.com)
Memasuki gedungnya, akan terlihat banyak sekali spot-spot berwarna hijau dari tanaman-tanaman yang tumbuh, bukan tanaman palsu. Bahkan, katanya di bagian lobi-nya saja ada ladang padi. Oh men, ini dalam ruangan kan?

Panen padi (www.dezeen.com)
Tidak main-main, padinya bukan hanya dijadikan hiasan, melainkan dirawat sedari kecil hingga dewasa dan panen menghasilkan padi. B-) Meskipun hanya sepetak, tapi sepertinya cukup untuk dijadikan bahan memasak pada saat perayaan kantor.

Kebun brokoli (www.dezeen.com)
Selain padi, tanaman-tanaman yang dipelihara kebanyakan adalah sayuran, karena memang tujuan dari urban farming di sana adalah farm-to-table. Jadi, sayuran yang dipelihara sejak kecil, hingga menghasilkan, akan diolah di cafetaria untuk makan siang.

Gardening bed (www.dezeen.com)
Sebagai alternatif, mereka menanam menggunakan gardening bed, bukan lagi pot. Gardening bed ini lebih disukai karena kapasitasnya yang banyak dan lebih cocok untuk menanam sayuran. Menanam di dalam gedung ini sangat mirip dengan menanam di ladang outdoor. Lihat saja, bahkan mereka dapat membuat bedengan-bedengan untuk tanaman sayur.

Kebun bunga matahari (www.dezeen.com)
Kebanyakan tanaman yang ditanam merupakan tanaman musiman, agar pemandangan tidak membosankan. Menurut Yoshimi Kono, salah satu desainer Kono Designs, konsep seperti ini akan membuat orang membicarakan bunga-bunga bermekaran, tanaman, bahkan musim ketika berada di kantor. Jadi tidak suntuk dengan melulu membahas masalah pekerjaan atau bergosip yaa... Hihihi.

Gardening bed dengan bunga-bunga yang indah (www.dezeen.com)
Gedung dengan total luas 20.000 meter persegi ini memiliki 4000 meter persegi area hijau yang bisa ditanami, dengan kurang lebih 200 spesies tanaman, buah-buahan, sayuran, dan padi. Lihat saja, salah satu blok yang sedang ditanami bunga-bunga ini. Duh, cantik sekali deh.

Ruang pertemuan Pasona (www.dezeen.com)
Tanaman akan tampak dimana-mana, bahkan di ruangan meeting. Rapat sambil memandangi tanaman-tanaman tomat cherry menjuntai yang sedang berbuah lebat untuk mencari inspirasi, sangat anti-mainstream.

Baby Lettuce (www.dezeen.com)
Karyawan Pasona didorong untuk memelihara dan memanen tanaman dengan dukungan dari tim spesialis agrikultur. Semua ladangnya dilengkapi dengan metal halida, HEFL (Hybrid Electrode Fluorescent Lamp), dan lampu LED sebagai pengganti sinar matahari; sistem irigasi otomatis sehingga tidak terjadi kebecekan :p, dan juga pengatur kelembaban dan temperatur. Sungguh gedung yang didesain dengan niat yang maksimal.

Ladang selada (www.dezeen.com)
Salah satu tanaman yang paling banyak dipelihara adalah selada untuk salad. Metode menanamnya ada yang menggunakan hidroponik dan juga tanah langsung.

Tanaman sebagai partisi (www.dezeen.com)
Jika dilihat sepintas, sedikit sekali tembok yang dibangun di dalam ruangan kantornya, karena fungsi partisi telah digantikan oleh rak-rak tanaman. Kemanapun memandang, ada tanaman dimana-mana.

Tanaman dimana-mana (www.dezeen.com)
Cahaya dari jendela jadi tidak terlalu silau (www.dezeen.com)
Ruangan kantor yang cerah ceria (www.dezeen.com)
Ladang indoor (www.dezeen.com)
Konsep seperti ini sangat baik sekali untuk gedung perkantoran. Selain warna hijaunya dan oksigen yang meningkatkan kreatifitas, aktivitas berkebun juga bisa menjadi kegiatan pengisi waktu luang atau istirahat. :)

Yuk, usulkan ide seperti ini di kantormu. :]

"It is important not to just think about how we can use our natural resouces better from a distance, but to actively engage with nature and create new groups of people who have a deep interest and respect for the world they live in" (Yoshimi Kono)."

All photographs are courtesy of Kono Design.

Sabtu, 30 April 2016

Berkunjung ke Kebun Bunga Begonia Lembang

Begonia, mungkin tidak banyak orang yang mengenal bunga ini. Karena memang bunganya nggak seindah mawar atau sunflower. Tapi di sini, di Kebun Bunga Begonia, dialah primadonanya. Banyak yang bilang kalau bunga lebih indah jika bergerombol. Sepertinya prinsip itulah yang digunakan oleh konseptor tempat wisata yang terletak di Jalan Maribaya ini. Ratusan tanaman begonia ditumbuhkan dan berbunga dengan cantiknya. Salah satu yang membuat bunga-bunga ini eye catching adalah warna daun dan bunganya yang kemerahan. ♥

Bunga Begonia

Tidak hanya ditanam di kebun, beberapa gerombol bunga juga ditanam di pot gantung. Cantik deh. Seperti ini nih.

Bunga begonia gantung

Kalau dilihat sepintas, kebun bunga ini sepertinya menggunakan konsep garden bed. Garden bed bisa menjadi pilihan metode menanam pada area yang cukup luas, atau di atas area paving block. Menanam dengan menggunakan garden bed akan memperluas daerah jangkauan akar tanaman, mempermudah perawatan tanah, dan membuat batas-batas area tanaman menjadi jelas sehingga tidak akan terinjak-injak.

Tuh kan, terlihat lebih rapi
Meskipun namanya kebun bunga begonia, tapi banyak kok bunga-bunga lainnya yang ditanam di sini. Entah dilakukan rotasi tanaman atau tidak, tetapi waktunsaya berkunjung, petak-petak garden bed-nya sedang dipenuhi oleh bunga-bunga angelonia berwarna pink, putih, dan ungu yang sedang bermekaran. Baunya manis ♥

Angelonia, yang sering disalahartikan sebagai lavender

Ada juga bunga sejenis daisy pink merumpun lucu di beberapa pojokan, juga red salvia. Beberapa tahun lalu, saya sempat memelihara si daisy pink ini. Cuma bertahan beberapa bulan, kemudian mati karena kurang mendapat sinar matahari :'(

Kebunnya diberi blok, seperti perumahan hihihi

Karena letaknya di daerah pegunungan, maka pemandangan di sekelilingnya pun tidak kalah seru untuk dinikmati. Jangan lupa bawa jaket ya!

Selain kebun bunganya, pemandangannya juga yahut

Waktu itu sedang long weekend, jadi cukup banyak pengunjungnya. Kebanyakan sih bereksperimen dengan gaya dan kamera. Saya, karena memang tidak terlalu suka difoto, asyik sendiri menikmati momen dan bunga-bunga yang ciamiks. :D

Pengunjungnya lumayan banyak
Ada satu petak yang ditanami bunga nasturtium. Aaah, warna orange-nya cantik sekali. Ohya, bunga ini termasuk edible flower. Biasanya dijadikan teman salad, daunnya yang bundar lucu, dijadikan garnish. :)

Gank nasturtium

Daunnya berbentuk bundar imut
Untuk memfasilitasi para pengunjung yang demen berfoto, disediakan spot-spot lucu. Salah satunya kursi yang dikelilingi bunga-bunga ini. Duduk di sini berasa menjadi penguasa rimba. Hahaha...

Singgasana si green thumb

Tidak hanya itu, pengunjung yang ingin pulang membawa oleh-oleh tanaman bunga, bisa berkunjung ke toko kecilnya. Di aini ada berbagai macam bibit bunga dan benih juga. Bibit yang dijual hampir semuanya sudah berbunga.


Mini nursery

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bunga lisianthus. Bunganya seperti mawar, namun batangnya lunak dan tidak berduri.

Lisianthus pink
Ada juga bunga-bunga kecil yang ditemplok di tiang-tiang toko. Berwarna kuning. Abang penjual menyebutnya shooting stars, atau nama lainnya dahlberg daisy. Karena lucu, saya membelinya deh.

Dahlberg daisy

Thymophilla tenuiloba
Selain itu, saya juga membawa pulang lisianthus berwarna ungu pekat. Menyesal deh hanya membeli 1, karena ternyata perawatannya tidak begitu sulit dan rajin berbunga.

Lisianthus
Kalau kamu membaca postingan saya sebelumnya tentang rumah bunga rizal, nah kebun bunga begonia ini persis terletak di sebelahnya, jadi jangan lupa mampir untuk membeli kaktus, sukulen, atau anggrek. :3

Selasa, 15 Maret 2016

Critical Eleven-Ika Natassa





Title: Critical Eleven
Writer: Ika Natassa
Publisher: PT. Gramedia Pustaka Utama
Pages: 339

Sinopsis...

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat-- tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing--karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah--delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah, Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

***

Sebetulnya agak terkecoh ketika membeli buku ini. Jadi pada waktu itu saya sedang mampir ke sebuah toko buku, niatnya sih ingin mencairkan voucher. Vouchernya cuma 50 ribu, jadi saya mencari buku-buku yang lumayan tipis. Awalnya sempat melirik buku ini, namun kok ya melebihi budget vouchernya. Namun, setelah berkeliling dan belum menemukan buku yang pas, saya iseng membuka-buka salah satu buku yang sudah tidak bersampul, untuk mencari tahu secara general, cerita dari buku ini (sebetulnya aktivitas ini sangat saya hindari karena memicu keinginan membeli semua buku hehehe...). Waktu itu saya agak terburu-buru karena sudah cukup malam, ketika saya baca sekilas, kok ada nama Risjad di dalam buku ini, dan seketika saya berpikir bahwa ini sequel dari Antologi Rasa. Tahu apa yang saya pikirkan? Saya kira ini lanjutan cerita dari Harris Risjad dan Keara (Antologi Rasa), jadi si Risjad selingkuh dengan wanita bernama Anya. Waduh, karena tidak punya pilihan lain, dan keterbatasan waktu, saya ambil saja bukunya. Lagian, sudah punya Antologi Rasa, lumayan jadi nerusin cerita.

Setelah membacanya, ternyata Harris Risjad malah cuma jadi cameo saja. Hihihi... Tapi memang ceritanya berkaitan dengan beberapa tokoh di Antologi Rasa, yaa salah satunya si Harris Risjad ini. Waduh, jadi ingat cara menulisnya Ilana Tan. Hehe...

Di buku ini, seperti biasa Ika Natassa membawa kita memasuki cerita dengan memainkan "perasaan". Diceritakan dari sudut pandang 2 tokoh utama, sebetulnya gaya menulisnya sangat mirip dengan beberapa buku sebelumnya. Kelebihannya, kita bisa melihat peristiwa atau kejadian yang terjadi, dari 2 sudut pandang.

Tokoh utamanya ada 2, Anya dan Ale. Sebetulnya ya menurut saya pasangan ini sangat sempurna. Wanita baik hati bertemu dengan pria baik hati. Namun permasalahan mulai dari long distance, kecemburuan, dan kata-kata yang salah diucapkan, membuat semuanya berbeda.

Seperti di a Very Yuppy Wedding, Antologi Rasa, Dwivortiare dan Critical Eleven. Kalau diperhatikan, Ika Natassa ini seringkali menciptakan tokoh utama wanita yang  mirip-mirip lho. Secara umum, wanitanya pasti wanita karir cantik yang sibuk, brilian dalam pekerjaan dan punya kemampuan untuk flash back ke kejadian-kejadian lampau. Namun, yang saya suka dari gaya beliau bercerita adalah, ya itu, seringnya flashback ke kejadian lampau, yang memang sering terjadi kan ketika kita tidak sengaja melihat sesuatu yang mengingatkan kita pada masa lalu, kemudian sisipan-sisipan pandangan mengenai hal-hal dalam hidup yang bahkan sepertinya sepele, tapi penting untuk disadari, membuat buku ini tidak membosankan.

Alur cerita yang mundur maju juga membuat kita menjadi penasaran. Antiklimaks nya diceritakan terlebih dahulu, kemudian klimaksnya dan pendahuluannya diceritakan perlahan dengan cara mengupas kenangan masa lalu sedikit demi sedikit.

Pesan yang saya ambil dari buku ini adalah, some words are better not spoken. Ada hal-hal tertentu yang sebaiknya tidak disampaikan, karena akan melukai seseorang. Bukan berarti mendukung kebohongan. Tidak. Hanya menyimpan beberapa kata-kata untuk diri kita sendiri. Karena begitu itu diucapkan, akan ada orang yang terluka. Some  are healed in a minute, in a month, a year, even a life time.

Berikut beberapa kalimat favorit saya yang berhasil saya kumpulkan yang kebanyakan berasal dari tokoh utama wanitanya, Anya:

"We react to every single thing in our life because of our memory. Every single thing."

"You just cannot exist without memory."

"When memory plays its role as a master, it limits our choices. It closes the doors for us".

"I'm here. I'm here. Until you realize that I'm here eventhough I am not here."

"Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu..."

"For many of us, Jakarta is not a city. It's a book full of stories. Wh?ile for some of us, Jakarta is a confidant, keeping all of our deepest secret without ever judging us."

"Banyak orang suka hujan karena bau tanah basah setelahnya. Aku suka hujan karena suara rintiknya dengan ritme teratur yang menciptakan harmoni dengan apa pun dia bersentuhan--kaca jendela, aspal, tanah, rumput, atap, bahkan sekadar kaleng rombeng di pinggir jalan. I's just magical."

"To women, how you deliver the message is sometimes more important than the message itself."

"Love doesn't consist of gazing at each other, but in looking outward together in the same direction."

Dan, di bagian akhir dari bukunya, ada quote ini:

"Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live."
-Norman Cousins

From 1 to 10, I give 8.5 stars for this book.
Recommended to read.

Rabu, 24 Februari 2016

Membuat Mini Terrarium atau Rangkaian Succulent utuk Kado :3

Sebulan lalu, salah satu teman saya berulang tahun. Karena tahu saya punya cukup banyak sukulen dan kaktus, secara langsung beliau meminta terrarium sederhana sebagai kado. Berikut hasil dokumentasi saya, biar kamu juga bisa buat di rumah, barangkali mau bikin juga untuk seseorang yang spesial :)

Bahan-bahan yang saya gunakan adalah beberapa jenis kaktus dan sukulen, media, batu hias, sekop mini, dan jangan lupa container lucu, supaya tampilannya imut.

Bahan-bahan yang dibutuhkan
Jenis sukulen yang saya pilih adalah echeveria. Saya suka sekali sukulen jenis ini karena bentuknya rossette, indah sekali. Kalau ada yang warnanya kemerahan, dari jauh akan terlihat seperti bunga mawar :) saya juga memasukkan kaktus, kata teman saya, dia maunya terrarium yang agak sangar. Hehehe...

Kaktus dan sukulen yang akan dikombinasikan

Pertama, penuhi bagian dasar container atau pot dengan karbon aktif. Karbon aktif ini berfungsi mengadsorpsi mikroba-mikroba yang muncul karena kelembaban. Maklum, potnya kan enggak ada lubangnya.

Karbon aktif di bagian dasar kontainer
Ketebalan lapisan karbon aktif ini kira-kira 0.5 cm. Di bagian atas karbon aktif, bisa diisi dengan bebatuan kecil unuk membatasi media agar tidak terlalu banyak kontak dengan air di bagian bawah. Ketebalannya kira-kira 1 cm.

Bebatuan kecil setelah karbon aktif


Selanjutnya isi dengan media. Media yang saya gunakan adalah campuran kompos, sekam bakar, dan pupuk kandang dari kotoran sapi. Isi hingga kontainer hampir penuh.

Media

Setelah itu, barulah kita menempatkan tanaman-tanaman mungil. Caranya, gali media dengan sekop mini kurang lebih kedalamannya 3 cm, masukkan bagian akar tanaman, lalu kubur hingga seluruh akar tertutupi.

Masukkan tanaman-tanamannya
Keempat tanaman sudah berada di posisinya masing-masing
Nah, selanjutnya tinggal menghias bagian atasnya. Awalnya saya memilih pasir putih. Tapi kok ya, kurang eye catching ya dilihatnya. Jadilah saya menimpa dengan pasir malang saja. Karena lebih enak dilihat.

Dihias pasir putih

Dihias pasir malang

Selain pasir malang atau pasir putih, kamu juga bisa menggunakan bebatuan warna-warni, mutiara, bahkan spanish moss untuk menghias bagian atasnya. :)

Setelah jadi, kamu bisa meletakkan sujulen kombinasi ini di indoor (meja kantor, meja makan, jendela dapur) maupun outdoor, asalkan pilih tempat yang cukup mendapat sinar matahari. Penyiramannya, berdasarkan pengalaman, 1 sendok makan sehari, cukup :)

Jangan ragu untuk memberikan pita atau gantungan sebagai hiasan :) Selamat mencoba yaa... :3


@bibitanaman