Sabtu, 17 Januari 2015

The Journeys 3 - Gagas Media



#Alexander Thian, Alfred Pasifico, Alitt Susanto, Ariev Rahman, Dina DuaRansel, Farid Gaban, Hanny Kusumawati, Husni M. Zainal, JFlow, Lucia Nancy, Valiant Budi, Ve Handojo, Windy Ariestanty
#2013-382 halaman
#GagasMedia

Batas akan tetap menjadi batas, saat tak ada yang benar-benar berani menyeberanginya.

Seperti halnya kita menamai utara sebagai utara, karena tak ada yang pernah bertanya kenapa.

Jarak akan tetap menjadi jarak, saat tak ada yang memulai langkah untuk menyudahinya.

Kita hanya menduga-duga, sebelah langit mana yang berwarna lebih merah.

Dan, perjalanan hanya akan menjadi perjalanan, saat tak ada yang sudi menceritakan kisah yang menyertanya.

Maka, temuilah, lewati batas, tuntaskan jarak.

Ceritakan- setidaknya kepada diri sendiri, tetang jawaban yang kita temui.

-blurb the journeys




Berawal dari penolakan ajakan teman saya untuk berlibur ke pantai dengan alasan tidak begitu suka jalan-jalan, akhirnya saya dipinjamkan sebuah buku, yang katanya bisa memotivasi untuk mulai menyukai travelling.

Awalnya agak malas membaca bukunya, berhubung pengarangnya banyak dan penulisannya seperti kumpulan-kumpulan cerpen. Tapi setelah membaca blurb di atas, waduh jadi penasaran juga.

Ternyata enggak membosankan. Justru banyaknya penulis memungkinkan pembacanya untuk memahami arti travelling dari sudut pandang dan pendapat yang berbeda-beda.Ada yang bercerita tentang masa kecilnya, perantauan sebagai tuntutan profesi, travelling demi memicu adrenalin, bahkan ada yang ingin menginjakkan kaki di negara yang pernah diinjak oleh sang ayah.

Dari 14 pengarang, ada beberapa yang paling saya suka, Alexander Thian, Farid Gaban, dan Hanny Kusumawati. Kenapa? Kita bahas satu-persatu yuk!

1. Alexander Thian
Penulis yang memiliki akun twitter dengan id @amrazing ini memang terkenal sebagai travelling addict. Di twitternya beliau sering meminta followernya untuk menyebutkan atau menyumbang informasi mengenai tempat-tempat oke untuk travelling tapi terpencil. Dan enggak jarang dia sudah pernah mendatangi tempat-tempat yang disebutkan oleh followernya. Kalau ada yang belum pernah dikunjungi, saya yakin beliau akan mencatatnya sebagai to-visit-place. Hihihi...

Yang bikin tulisannya asyik dibaca adalah gaya menulisnya yg santai (suka ber-elo-gue contohnya), kocak, dan bagaimana cara dia mengisahkan keluarganya yang broken home in a funny way. Engga semua penulis loh bisa mengubah pengalaman broken home jadi cerita yang lucu.

Dia nyeritain gimana dia menemukan dan mengunjungi tempat-tempat baru di singapura karena nyasar dari tujuan utamanya, apartemen sang ibu, dengan bahasa yang kocak tentunya,

Salah satu kalimat yang menarik perhatian adalah, "engga ada yang namanya nyasar, yang ada, elo menemukan tempat baru." Menurutnya, di setiap nyasar, selalu ada pengalaman baru yang bisa diambil, tempat baru yang bisa dikunjungi, orang-orang baru yang bisa dijadikan teman, dan petualangan yang bisa dikenang. :)

2.Farid Gaban
Kalau kalian mencari traveller yang bisa menulis tapi sambil mengajari ilmu flora dan fauna, inilah orangnya. Sambil nyeritain pengalamannya snorkeling dan diving, dia bisa nyebutin atu-atu nama hewan dan flora laut yang dia liat. Enggak nanggung-nanggung, dia sebutin juga nama latinnya. Setdah. Mungkin dia menyelam sambil googling, ahahaha...

Dari tulisannya kita bisa belajar biologi melihat lebih dalam kehebatan Tuhan dalam menciptakan beragam fauna yang unik dan keren dan susah nama-namanya. Ahihihi...

Ini baru namanya travelling sambil belajar.


3. Hanny Kusumawati
Tiap orang punya pendapat sendiri mengenai definisi travelling. Dari sekian banyak penulis di buku ini, yang paling saya-banget adalah mbak Hanny Kusumawati. Menurutnya, travelling itu enggak harus selalu pergi ke tempat wisata, ke tempat-tempat yang indah, travelling itu bisa kita nikmati setiap hari dengan membuka mata lebih lebar dan mengubah sudut pandang kita.

Menurutnya, travelling adalah jalan kaki di kota kecil yang baru kita datangi, duduk di cafe baru sambil menikmati atmosfernya, berkenalan dengan orang-orang baru di perjalanan, mencicipi masakan baru.

Saya setuju sekali, untuk apa kita pergi jauh-jauh dari rumah, kalau banyak tempat-tempat seru di dekat kita yang belum kita kunjungi, bahkan hanya untuk duduk sebentar, menghirup dan meresapi aroma udaranya, mengamati kegiatan orang-orangnya, bahasa dan gerak tubuh mereka? Travelling juga tidak harus selalu beramai-ramai. Justru travelling sendirian memicu kita berinteraksi dengan orang-orang setempat, mengenal budaya dan custom yang berbeda di tempat tersebut.

Di sini dia menceritakan pengalamannya mengunjungi kota baru di eropa, makan di cafe-cafe kecilnya sambil menulis dan melamun, tinggal di penginapan milik warga setempat, melepas penat di pinggiran tebing, dan yang unik, dia selalu membawa catatan kecil dan pulpen kemanapun dia pergi. Katanya tidak boleh ada detil yang terlupakan, uuihihi... saya banget ( pelupanya maksudnya).

Berikut cuplikan tulisannya Hanny Kusumawati yang paling saya suka:

Berhenti. Ya, seberapa sering dalam hidup ini kita berhenti sejenak? Seberapa sering kita begitu terburu dan merasa tidak punya waktu? Mereka bilang, teknologi seharusnya membuat keseharian kita menjadi lebih mudah. Seharusnya kita bisa menghemat lebih banyak waktu. Tapi nyatanya, berapa banyak waktu yang bisa kita hemat setiap harinya untuk berhenti; memandangi bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan, melamun di tepi padang, duduk di atas rerumputan, memandangi bintang-bintang, mengusap kepala seekor kucing liar yang melintas lewat, atau bercakap-cakap dengan seseorang yang baru saja kita temui di sisi trotoar, di atas bus, atau di dalam pesawat terbang?

Ketika kita berhenti sejenak, waktu seakan berlalu lebih lambat. Momen tidak hanya sekadar lewat, tetapi meninggalkan jejak. Wajah-wajah meninggalkan nama. Kata-kata meninggalkan makna. Setiap interaksi meninggalkan koneksi. Setiap kesan meninggalkan kenangan yang selalu bisa diputar ulang. Dan kita, kita tersimpan dalam banyak ingatan.

Dan bukankah sebenarnya ini yang semua orang cari?

2 komentar:

  1. halo kak reree aku suka banget sama postingan kamu yang berkebun-berkebun. ilmunya bermanfaat sekali. aku sendiri juga suka berkebun hehehhe makasih banyak ya! akan lbh senang kalo bisa ngobrol2 langsung meski lewat chat biar bisa sharing lbh banyak sm kamu soal berkebun di ruamh

    BalasHapus
  2. Hey Mega. :)

    Wah aku juga senang kalo postingan aku bermanfaat. Hihi...
    Iya... berkebun itu asyikk... ngilangin stress :p

    email aja ke:
    dz.lous.dm@gmail.com
    Untuk tukeran nomor ;)

    sampai ketemu :D

    BalasHapus

Comment anything, ask me anything :)