Thursday, January 21, 2021

Ada Pohon Sakura di Bogor. Iya Gitu?

January 21, 2021 0 Comments
Lagi buka-buka galeri handphone terus menemukan beberapa foto pohon bunga Sakura yang sempat dikunjungi beberapa tahun lalu. Saya upload di sini ah, barangkali jadi inspirasi untuk dikunjungi, tentunya setelah pandemi Covid19 ini berlalu ya. Juga sebagai informasi, kalau Sakura juga ternyata bisa tumbuh di Indonesia :) 
 Foto-foto ini saya ambil di sekitar bulan Januari 2018 kalau tidak salah. Waktu itu ada acara jalan-jalan dari kantor, tempat di mana saya mencari rejeki. Singkat cerita ini jalan-jalan terpaksa, karena minta disponsori jalan-jalan oleh kantor, tapi tidak diapprove. Jadilah kami-kami ini karyawan yang sudah jengah bekerja tetapi ndak libur-libur, mengadakan acara sendiri ehehe. 

 Ada hal yang disayangkan dari acara jalan-jalan ini, yaitu mengunjunginya di musim hujan, jadi kurang poll gitu loh, jalanannya becek, licin, dan sempat kehujanan juga. Ehehe. 

 Baiklah, nama tempatnya adalah Kebun Raya Cibodas, letaknya di pinggiran kota Bogor. Waktu itu saya ke sana naik bis bersama rekan-rekan kerja. Asyik sekali karena bisa kenalan dengan anggota keluarga yang lain. Ada yang bawa anak, pasangan, dll. Waktu itu status saya masih single, jadi sendirian saja, duduknya bersama teman yang single juga ohoho. 

 Berangkat pagi-pagi sekitar jam 6.00 dari daerah Jakarta Selatan, sampai di Kebun Raya Cibodas sekitar jam 8.30. Perjalanan enggak begitu macetos, karena masih pagi kali ya. Bis parkir agak jauh dari pintu masuk, dekat semacam pasar kecil gitu. Ada yang jual kelinci (pengin beyi), hasil kebun, dan tanaman hias kayak farmer's market gitu, versi merakyat. Jalan sekitar 400 meter, lalu sampailah di pintu masuk. Sayang sekali saya tidak memotret pintu masuknya nih. Waktu itu karena musim hujan, jam 9an pun masih ada kabut tipis, yah kami-kami cukup terpana, maklum jarang lihat kabut di Jakarta, seringnya lihat kabut bis kota. Uhuhuhu... T_T' 

 Pintu masuknya enggak begitu besar, tapi pas masuk, langsung dihadapkan yang ijo-ijo, duhhh...
Ulala


Bagi pegawai di Ibu Kota, melihat hamparan hijau begini dan udara yang bersih itu kesan tersendiri. Merefresh otak banget, yang tiap hari lihatnya layar monitor, laporan keungan, menghirupnya asap knalpot dan debu jalanan produk macet.

Jalan kaki terus ke dalam, turut tebing dikit, ketemu danau kecil, duh cantiknya. Suhu airnya setara dengan air mineral yang sudah dimasukkan ke showcase.

Beningnya Seperti Air Minum


Bocah-bocah ga sabar main-main air, bahkan ada yang sudah persiapan banget bawa baju renang, lalu berenang-renang kecil. Semoga tydac masuk angin karena baik air maupun udaranya di bawah suhu normal Jakarta biasanya. Saya sih cari tempat kering, terus duduk sambil makan popmi dan jagung bakar yang dijual ga jauh dari situ.

Lihatlah ke Situ, Ada Tenda Penjual Jagung Bakar dan Popmi

Menuju pohon Sakura, kita harus menyeberangi aliran sungai ini, nyesel ga bawa sandal, jadi sepatu agak-agak basah kena air. Airnya jernih sekali sih, jadi gapapa deh. =P

Kayak di Manaa Gitu


Terus berjalan, nantinya danau tadi mengalirkan airnya ke sungai sempit ini. Waktu itu karena musim hujan, pengunjungnya sedikit sekali. Katanya, kalau lagi ramai, di kanan kiri sungai ini banyak orang pasang karpet dan berpiknik ria.

Ahem, Jangan Ganggu Ah

Nah, akhirnya ketemu juga dengan pohon Sakura. Penampakannya seperti pohon bungur ya, tapi minim jumlah daun. Awalnya agak was, was, apa ada yang lagi mekar? Kan sayang banget kalau ke mari tapi sedang tidak ada yang mekar. Dan, jajaja, ternyata memang ada yang sedang bermekaran, meskipun tidak begitu banyak hingga berguguran.













Bunga Sakura ini ternyata memang cantik, tapi saya endus-endus, tidak ada aromanya sih. Kalau diamati, bunganya ada yang berwarna pink tua, dan ada juga yang berwarna pink muda. Meskipun belum bisa ber-ohanami ria (menikmati keindahan bunga Sakura ala Jepang) dengan berpiknik sembari dihujani sepal-sepal bunga Sakura, melihatnya juga sudah merupakan pengalaman yang langka ehehe. Jadi, saya sih senang-senang saja. 

Setelah berpiknik sebentar, makan nasi kotak (tanpa bunga Sakura yang berguguran tentunya), kami pun beranjak pulang karena sudah mulai gerimis. Waktu itu sekitar pukul 1, sebetulnya masih betah sih, tapi mengingat hujan yang akan turun dan juga kemacetan yang semakin siang semakin uwow, kami pun memutuskan check out.

Pesan saya untuk teman-teman yang berkunjung ke tempat wisata, kita kan berwisata ingin menikmati keindahan, melepas penat, please, jaga keindahannya, jangan buang sampahmu sembarangan dan jangan merusak, supaya tetap indah. Kalau bisa, bertindaklah lebih manusiawi dengan mengambil sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (yang kurang manusiawi karena bertingkah laku lebih rendah dari hewan, map kasar, sebal habisnya). Dengan begitu, tempat wisata tetap indah, dan kita juga mendapat kebaikan.

:)

Friday, September 18, 2020

Menanam Bunga Dahlia Dwarf Double Mixed

September 18, 2020 5 Comments

 Hello, lama tak posting hehehe... Semoga semuanya sehat-sehat selalu dan tetap aktif berkebun ya, supaya bahagia.

Kali ini saya mau berbagi pengalaman menanam bunga Dahlia. Waktu kecil, sering banget lihat bunga Dahlia di pekarangan tetangga, warnanya magenta, bunganya besar dan cantik, tapi tanamannya lumayan tinggi. Yah, karena ukuran tanamannya yg lumayan tinggi, jadi belum pernah kepikiran untuk mencoba menanam bunga Dahlia. Sampai akhirnya enggak sengaja nemu benih merek Mr. Fothergill's yang isinya benih bunga Dahlia Dwarf, Dwarf-nya ini yang jadi highlight ehehe, karena berarti kan enggak akan setinggi tanaman Dahlia biasanya. Terus cover-nya cakep lagi, bunganya warna-warni, karena mixed kan ya. Kayak gini nih kemasannya:


Kemasan Benih Dahlia Dwarf dari Brand Favorit, Mr. Fothergill's

Ok, karena kebiasaan semai banyak-banyak terus tanaman yang tumbuh lebih dari 1, dan akhirnya tak terurus, jadinya kemarin hanya tanam 3 benih. Dari 3 benih yang ditanam, ada 2 yang berhasil tumbuh. Lalu yang 1 tumbuhnya lebih pesat dari yang lain. Dalam waktu sebulanan, sudah bisa repotting dari pot diameter 8 cm ke pot diameter 10 cm. Oh iya, bagi yang kurang familiar dengan menanam dari benih, menanam dari benih itu kita harus sering-sering perhatikan akar. Apakah dia sudah keluar dari lubang bawah pot atau belom. Kalau sudah keluar, tandanya perlu repotting ke pot yang lebih besar 1 tingkat di atasnya, lalu jika sudah terlihat akar lagi, repotting lagi, begitu seterusnya hingga sampai pada ukuran pot ideal. Apaan si, kayak kurang kerjaan, langsung aja repotting ke pot yang gede. Nah, kalo langsung direpotting ke pot yang gede banget, biasanya akar jadi kurang kokoh dan kuat menopang tanaman, soalnya enggak seimbang antara akar yang cimit, sama media yang terlalu banyak. Coba aja.


Baby Dwarf Dahlia Usia Kurleb 1 Bulan

Karena katanya dia dwarf, saya pilih pot diameter 25 cm sebagai pot terakhirnya. Jadi urutannya 8, 10 dan 25 cm. Setelah dipindahkan ke pot diameter 25 cm, dia tumbuh pesat dan daunnya lebar-lebar, tapi sayangnya sempat kena serangan hama yang bikin daunnya ngelipet-lipet gitu ke dalem, jadi kurang cantik. Bahkan bunga pertamanya juga kena serangan, jadi mekarnya kurang sempurna uhuhu...

Ulala, Bunga Pertama

Tak tinggal diam, saya coba pindahkan lokasinya ke tempat yang lebih berangin, awalnya saya taruh di balkon lantai 2. Nah, setelah pindah lokasi, mungkin feng shuinya lebih bagus wakakak, dia membaik, bunganya makin banyak, daunnya udah nggak ngelipet-lipet lagi dan bunga mekar sempurna. Ah, senangnya. Ternyata warna bunga yang tumbuh enggak sama dengan warna yang ada di kemasan. Tak apalah, yang penting tetep cantik.


Dwarf Dahlia at Its Best Stage

Karena setiap abis berbunga, ngga bisa dapet biji dari bunga keringnya (entah kenapa), sempet nyoba stek, tapi gagal total wkwkwk, kayaknya ntar mau coba bongkar medianya untuk dapet umbi. Katanya kalo di negara 4 musim, biasanya orang menyimpan umbinya kalau udah mau masuk musim dingin, untuk ditanam lagi di musim semi/musim panas selanjutnya :)

Saya masih punya benihnya, kalau ada pembaca blog ini yang ingin coba menanam, saya bisa berikan hehe, tapi ongkos kirimnya ditanggung sendiri yaa. :D

Selain bunga Dahlia, ada bunga lainnya yang ingin sekali saya tanam, yaitu Rudbeckia atau Black Eyed Susan. Tapi udah berkali-kali coba, belum berhasil uga, uhuhu...

Ada yang sudah berhasil menanam bunga Rudbeckia kah? Bagi-bagi tipsnya dong.

Monday, January 6, 2020

Repotting Tanaman Bunga Vinca (Tapak Dara)

January 06, 2020 2 Comments
Repotting, apa sih itu?

Ketika menanam, terutama menanam dari biji dan sifatnya fast grower, mau enggak mau kita harus melakukan repotting, yaitu memindahkan tanaman dari pot yang sebelumnya memiliki ukuran kecil ke pot yang ukurannya lebih besar. Tapi kadang saya menerima pertanyaan dari teman-teman mengenai cara melakukan repotting. Markicob, mari kita coba lagi.

Kali ini saya akan melakukan repotting untuk tanaman Vinca saya yang sudah waktunya naik kelas. Bulan Agustus lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Jogja menghadiri pernikahan keluarga. Waktu itu saya menginap di sebuah guesthouse minimalis, namanya Omah Sunflower. Saya lumayan suka penginapan ini. Karena letaknya di daerah yang cukup desa, dikelilingi sawah dan angin yang segar. Hehe... Nah, di sekitar penginapan, ada tanaman bunga Vinca, iseng intip, ternyata ada bijinya yang sudah masak. Saya bawa sebagai oleh-oleh untuk diri saya sendiri. Wek...

Saya semai di bulan September, pada bulan Desember, dia sudah mengeluarkan bunga pertamanya!

Tanaman Bunga Vinca

Beberapa minggu setelah mengeluarkan bunga pertamanya, tibalah saatnya untuk dia di-repotting. Salah satu ciri tanaman sudah bisa di-repotting adalah terlihatnya akar di bagian bawah pot. Nutrisi pada pot sudah tidak cukup memenuhi kebutuhan tanaman, sehingga akar terus mencari nutrisi hingga keluar dari lubang pot.

Akar Tanaman Menembus Lubang Bawah Pot
Apa saja bahan dan alat yang diperlukan? Ini dia:
- tanaman yang akan direpotting
- pot yang ukurannya lebih besar
- media tanam

Alat dan Bahan yang Diperlukan


Pot yang sebelumnya memiliki diameter 6 cm, untuk repotting, saya menggunakan pot berdiameter 9 cm, ukurannya lebih besar sedikit untuk menghemat tempat he he he... nanti kalau sudah diperlukan, akan saya repotting lagi ke pot yang ukurannya lebih besar. Pertama-tama, taruh sedikit media pada pot yang besar.


Taruh Sedikit Media untuk Menutupi Lubang Pot

Lalu pot lama berisi tanaman dibalik secara perlahan dengan posisi batang tanaman dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah.

Jepit Batang Tanaman dengan Jari Jemarimyu

Jungkir balik secara perlahan (dikasih alas yaa, biar ga mawur-mawur, saya pakai tray btw).

Balikkan Secara Perlahan
Setelah pot dalam posisi terbalik, dengan tetap menjepit batang tanaman, tekan-tekan atau pencet-pencet pot (nggg... ditepuk-tepuk dikit juga bisa) agar seluruh media lama keluar. Sebelumnya, media dapat dibasahi terlebih dahulu untuk mempermudah. 

Berdasarkan Pengalaman, Lebih Mudah Kalau Medianya Basah
Repotting yang baik, pada dasarnya dilakukan dengan tanpa (atau seminimal mungkin) mengganggu akar tanaman. Jadi, lakukan dengan pelan-pelan yaa, jangan barbar. Hehe... Selanjutnya, tanaman yang sudah ada di telapak tanganmu itu, ditaruh perlahan ke pot baru yang sudah dimasukkan sedikit media tadi. Untuk meningkatkan nilai estetika, tempatkan tanaman di posisi tengah ya.

Letakkan Tanaman Perlahan di Bagian Tengah

Selanjutnya udah gampang nih, kamu tinggal mengisi kekosongan dalam pot dengan media tanam yang baru. Oh ya, media tanam yang saya pakai adalah campuran pupuk organik ee kambing, tanah, dan sedikit sekam mentah. Mix well ya. Setelah potnya sudah berisi full media, selesai deh repotting. Jangan lupa siram dan letakkan di tempat teduh dulu selama 1-2 hari untuk memberi tanaman waktu pulih dari stress akibat repotting. Hohoho...


Voila
Repotting tanaman engga susah kok hehehe... kalau ada yang punya pertanyaan atau saran materi untuk postingan selanjutnya, plis plis tulis di comment. Hehe... Terima kasih telah membaca, jangan lupa dipraktikkan yaa. :)

Sunday, September 29, 2019

Pengalaman Menanam Bunga Verbena dari Benih

September 29, 2019 1 Comments
Berbicara soal Bandung, kota di mana saya paling banyak menghabiskan kehidupan dan waktu, banyak hal yang saya sukai darinya. Selain kota ini paling banyak memuat orang-orang yang saya sayangi (aciee), kota ini juga adalah salah satu kota yang ideal untuk tempat tinggal. Kelembaban udaranya yang cukup, enggak kota metropolitan banget tapi juga enggak susah kalau mau cari sesuatu, orang-orangnya bisa dibilang ramah (salah satu indikasi, kalo kasih senyum pasti disenyumin balik meskipun enggak kenal), makanannya enak-enak (banyak micin soalnya hohoho), dan yang enggak kalah penting adalah suhu udaranya yang manusiawi bahkan bisa dibilang cukup adem. Wah ini penting untuk mendukung aktivitas menanam. Nah, kali ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya menanam bunga Verbena.

Kalau belum familiar dengan bunga Verbena, apakah familiar dengan bunga lantana? Itu loh, yang biasa dijadikan tanaman pengisi border taman. Hehe... bisa search di google yaa bentuknya kayak apa pasti lebih familiar deh. Nah, bunga lantana ini memang termasuk keluarga Verbena. Seseorang memberikan benihnya sebagai hadiah cinderamata dari Australia. Mendengar tempat asalnya, udah minder duluan, skeptis bisa tumbuh di Indonesia. Tapi karena mengingat saudaranya si Lantana bisa tumbuh dengan baik di sini, akhirnya saya coba juga.

Penampakan kemasan dan benih Verbena

Benih yang saya coba adalah brand Mr. Fothergill's, salah satu brand benih favorite memang, karena mayoritas benih yang saya tanam, tumbuh hehe. Udah gitu logonya juga lucu, opa-opa farmer gitu (apasih). Jenis Verbena-nya Verbena Dwarf Compact Mixed. Benih saya semai di media semai yang terdiri dari campuran cocopeat, sekam bakar, tanah, sekam halus, dan sedikit pupuk kompos. Benih saya kubur di media tersebut dengan kedalaman kurang lebih 0.5-1 cm disiram setiap hari pakai sprayer. Dalam kurun waktu 2-3 mingguan (agak lama ya) muncul sprout. Happy banget karena kan awalnya skeptis. Tapi ada yang sedih, seiring berjalannya waktu, beberapa yang sudah sprout malah die entah kenapa sampai akhirnya tinggal 1 tanaman yang berhasil membesar. Tapi ya gitu daunnya kurang oke dan terlihat tidak ada harapan tumbuh sehat. Waktu itu kebun saya tinggal beberapa minggu ke luar kota dan dititipkan kepada ibunda tercinta. Suatu hari, saya mendapat pesan elektronik, bahwa muncul bunga aneh (yang belum pernah ibunda saya lihat). Setelah saya lihat fotonya, barulah ngeh kalau itu bunga verbena (sampe lupa loh karena putus harapan T_T).

Bentuk daun Bunga Verbena Dwarf Compact Mixed
Sampai rumah, langsung deh menengok kebun untuk lihat bunga verbena secara langsung. Kalau dilihat dari bentuk daunnya, agak beda sih dengna lantana yang biasa kita temui di sini. Daun Verbena Dwarf Compact Mixed ini lebih runcing ujungnya dibanding daun Lantana, selain itu daunnya nggak berbau tajam seperti lantana, padahal permukaannya sama-sama kasar dan agak berbulu. 

Bunga Verbena

Nah, kalau dari bentuk bunganya, kurang lebih sama dengan Lantana, hanya saja warnanya yang ini agak lain. Lantana yang biasa saya temui di indonesia warnanya putih, kuning, pink, orange, tetapi Verbena Dwarf Compact Mixed yang berhasil tumbuh ini, warna bunganya ungu!

Tanaman Verbena Dwarf Compact Mixed di Pot Diameter 10 cm

Kalau lihat dari kemasannya sih ya, ada warna lain, yaitu fuschia, maroon dan putih. Pengin coba tanam lagi, jadi ini benih masuk antrian tanam hehehe. Semoga di percobaan selanjutnya, tumbuh juga warna lainnya ya. Oh ya, tanaman ini dirawat oleh ibunda saya seperti tanaman-tanaman lainnya. Kena sinar matahari penuh (full sun), penyiraman sekali di sore hari.

Semoga Next Time Bunga Warna Lain Ikutan Tumbuh Juga

Kalau dilihat berdampingan begini, mirip lah yaa dengan aslinya yang dipajang di kemasan. Hehe... Sayangnya, waktu itu musim hujan, sepertinya tanaman Verbena ini kehujanan dan terlalu lembab, jadinya tidak selamat.(T.T) Besok-besok kalau berhasil, akan kulindungi dari percikan-percikan air hujan. Hehe.

Wajib Coba Tanam!

Yah... begitulah pengalaman saya menanam bunga Verbena. Pelajaran yang bisa dibawa pulang, jangan mudah putus asa dan hopeless mulai dari menunggu sprout sampai memeliharanya. Next time kalau saya berhasil lagi menanamnya, akan saya share lagi yaa di sini. Semoga tidak bosan membacanya dan bisa memotivasi para pembaca untuk juga mencoba menanam. Ehe ehe... Menanam itu menyenangkan! :)



Friday, May 10, 2019

Menyemai, Menanam dan Memelihara Bunga Tagetes (Marigold)Lemon Gem dari Benih

May 10, 2019 2 Comments
Hai hai...
Sudah lama banget ya saya tidak share di sini. Duh... sekarang semakin banyak sih media untuk share, mulai dari twitter, instagram, status, dll. Tetapi entah kenapa paling nyaman memang di sini sih kalau untuk bercerita panjang lebar. Hehehe...

Baiklah, kali ini saya mau share pengalaman selama 2 bulan terakhir dengan Bunga Marigold Lemon Gem. Adakah yang baru pertama kali dengar jenis ini? Hehehe... Sebetulnya saya sudah punya seeds-nya dari lama. Sempat coba semai tahun lalu, tetapi gagal, lalu beralih ke benih-benih lainnya dulu. Eeh... kelupaan, pas beres-beres kulkas, baru keinget lagi punya ini.

Seeds yang saya punya brand-nya Mr. Fothergill's. So far benih brand ini lumayan bisa tumbuh sih, cuma karakter tiap tanaman kan beda-beda ya, jadi perlu menyesuaikan juga dengan mereka.

Seed Tagetes (Marigold) Lemon Gem

Penampakan benih Marigold Lemon Gem, sama aja dengan marigold jenis lain. Ngg... kayak batang-batang kecil gitu, dan warnanya mayoritas hitam, minoritas putih. Kayak serpihan sampah bakaran. ehehehehe... Tetapi khusus Tagetes Lemon Gem ini, ukurannya jauh lebih kecil dibanding teman-temannya kayak French Marigold. Cara menyemainya kurang lebih standar, tidurin, tutup dengan media setebal kurleb 0.5 cm lalu semprot atau siram perlahan setiap hari sehingga kelembaban terjaga. Untuk media sendiri, saya gunakan campuran sekam bakar halus, tanah, dan pupuk organik.

Benih Tagetes Lemon Gem

Sprouting cukup wajar sekitar 10 hari. Dari 3 seeds yang saya semai, tumbuh sebiji doang. Tapi bersyukur banget karena kali ini bisa tumbuh. Hehe... Lalu penampakan seedling (baby) nya seperti ini:

Baby Tagetes Lemon Gem
Seperti tanaman-tanaman lain pada umumnya, fase dari benih ke baby dan dari baby ke siap repotting cukup lama, yaitu sekitar 1-3 minggu. Di sini saya merasa pertumbuhan sangat lambat. Gitu-gitu aja diliat tiap hari. Paling cuma nambah tinggi dikit dan tambah daun. Percabangan belum terlihat.

Baby Tagetes yang Mulai Bongsor
Lalu setelah dirasa akar cukup kokoh dan daun lebih dari 4, saya mulai memberanikan melakukan repotting. Pot yang saya gunakan ukurannya naik dari diameter 7 cm, jadi 13 cm dan plus tatakan, biar ga beleber, karena suka saya tinggal-tinggal jadi siram yang banyak ehehe. Barulah setelah repotting, cabang-cabang baru mulai muncul, dan yang paling bikin seneng, mulai muncul bunga. :3

Duh... dah Mulai Gondrong ya Kamoh
Waktu saya coba foto bunganya, ternyata ukurannya mini banget, ga cuma benihnya yang mini, ukuran bunganya juga jauh lebih mini dibanding teman-teman Marigold lainnya. Nah, waktu tangan saya nyempil-nyempil megang bunganya untuk difoto, ga sengaja nyentuh dedaunannya yang mulai rimbun itu. Dan, ya ampun aromanya enak banget. Kalo kata saya sih beneran lemony. Mild sih, tapi tetep sukaaa. Berasa nyium kulit lemon selewat.

Bunga Pertama, yeay !!!
Lalu, karena mungkin waktu repotting saya menempatkan tanamannya kurang dalam, akarnya jadi kurang kokoh. Pada suatu malam dengan hujan yang deras, batangnya bengkok lalu karena ditinggal, dia jadi etiolasi bengkok-bengkok huahuhahauhahuha... T_T

Lihat deh, masak bunganya ke arah bawah :(
Lalu sebagai pertolongan pertama, karena saya malas repotting lagi (takut layu karena ganggu akar), saya tancepin tongkat penyokong. Dengan bantuan sinar mentari, akhirnya berhasil tegak kembali.

Head to the Sun

Nah, ternyata si Lemon Gem ini akhirnya punya kelebihan, yaitu jumlah bunganya lebih spektakuler dibanding Marigold jenis lainnya. Setelah 1.5 bulan, bunganya gemereyek dan makin harum lemon. Seneng banget lihatnya karena bikin balkon jadi cerah, harum, dan katanya bikin bebas nyamoek.

Ah, senangnya hati adinda :)
Nah, setelah ini, tinggal merawatnya terus, sampai di penghujung usia. Jangan lupa save benihnya untuk tanam di musim selanjutnya.

Anak Hijau yang sudah berbakti :)

Demikianlah pengalaman saya menanam Tagetes Lemon Gem. Gimanaaaa??? Jadi kepingin nyoba gak? Ehe ehe...

Thursday, March 22, 2018

Yuk, Buat Sendiri Kebun Herbs Vintage-mu

March 22, 2018 0 Comments
Selera menanam orang ternyata bermacam-macam. Ada yang hobi menanam aneka jenis bunga, aneka jenis tanaman hias, bahkan aneka jenis sayuran, biar habis ditanam, bisa masuk peyut~

Nah, selain tanaman-tanaman di atas, beberapa pekebun lagi in banget mengoleksi aneka herbs. Herbs itu selain bentuknya macam-macam, satu hal yang saya notice adalah baunya. Heaven! Kebanyakan herbs atau tanaman herbal merupakan golongan tanaman aromatik, yang mengeluarkan minyak atsiri beraroma. Beberapa kalau ditambahkan ke masakan, bikin tambah gembul, karena aromanya jadi enak. :3

Nggak cuma ditaburin ke masakan, herbs ini juga bisa mempercantik kebun rumah kamu. Dengan penambahan dekorasi simpel yang manis, jadi deh. Kalau sekarang saya lagi doyan sama dekorasi yang ala ala vintage. Yuk, bikin yuk.

Sebelum memulai, siapkan senjata dulu. Ini dia, teman berkebun yang mungil. Berguna banget buat masukin media ke dalam pot, merapikan media dalam pot, bahkan buat pemupukan kalau lagi iseng.


Kaki tangan hohoho

Selanjutnya siapkan media tanam. Media tanam yang saya gunakan adalah campuran tanah, cocopeat, sekam, dan pupuk kandang. Karena kebanyakan herbs menyukai tanah yang dingin, jangan lupa tambahkan sedikit sekam bakar. :)

Semua komposisi tadi diaduk secara merata, bisa pakai tangan kalo mau (yang ini bukan jorok, katanya menyentuh tanah sangat berkaitan dengan pengurangan stress karena interaksi kita dengan berbagai mikroorganisme tanah), atau pakai sekop mini kalau mau lebih higienis.


Ini pupuk kandang dari ee kambing :p

Next, adalah pemilihan pot. Untuk membuat tema vintage, sebaiknya kamu memilih pot dengan bahan dasar alami dan penampakannya udah agak-agak dekil dan kuyu, biar lebih kuat kesan vintage-nya. Saya memilih menggunakan pot berbahan baked earth (tanah liat). Percobaan membuktikan, herbs memang menyukai pot berbahan ini. Karena sifatnya yang dingin dan dapat menyerap kelebihan air ketika kita menyiram dengan agak barbar yang dapat menyebabkan kebusukan akar.


Pot terracotta diameter 10 cm
 Lalu, kalau kamu iseng seperti saya, bisa mainkan desain ala ala vintage pada pot. Kali ini saya mengecat pot terracotta dan memberikan tulisan keriting-keriting gemulai ala ala tulisan vintage. Karena kalau bikin poem agak kepanjangan, akhirnya saya cuma tulis nama dari tanaman herbalnya.


Tulisan keriting lunglai ala vintage

Kalau nanti potnya mau ditaruh di balkon atau tempat yang kering, jangan lupa siapkan saucer atau tatakan yow, biar nggak becek dan tetap sedap dipandang mata.


Tambahkan tatakan
 Step terakhir, tinggal repotting tanaman herbal kamu ke dalam pot. Saya sendiri menanam beberapa herbs dalam pot terracotta ini. Diantaranya, white chives (kucai) yang biasanya ibu saya petik-petik buat ditambahkan ke kuah sup, bakso, cream soup, tahu dll. atau bahkan hanya ditumis. Sebetulnya nggak jauh beda dengan daun bawang, cuma lembaran daunnya lebih tipis, dan aromanya lebih ghurih. Hati-hati sama lalat ya, entah kenapa, setiap memasak kucai, selalu mengundang lalat (*meskipun udah mandi).


Chives (kucai)

Next, ada flat parsley. Nah, kalau yang satu ini saya belum terlalu fasih menggunakannya untuk masakan. Karakter daunnya lebih kaku dibanding seledri, tetapi jarang saya gunakan untuk masakan sih. Penggunaannya mungkin lebih ke dressing, bentuk daunnya indah soalnya.



Parsley ada juga yang keritingnya nih. Curly parsley. Sama dengan si flat parsley, yang ini juga jarang saya gunakan untuk memasak. Tapi dia dengan setia menghiasi taman kok, dengan bentuk daunnya yang kribo imut lucu ini. Merawatnya juga nggak sulit. 


Parsley kribo

Next-next ada rosemary. Duhh... yang ini aromanya yahut banget. Membawa khayalan ke tengah kebun dan ladang herbs deh. Ahh... Saya lebih suka ngelus-ngelus terus dibauin, dibanding memakannya. Ohya, yang ini katanya bisa ngusir nyamuks, a.k.a. mosquito repellent. :3
Tanam yang banyak deh...


Rosemary dalam pot terracotta


Selain pakai pot terracotta, saya coba juga pot jenis lain, yaitu pot kaleng. Sepintas mirip-mirip ember gitu. Tapi sayangnya belom karatan ini, jadi agak-agak kurang vintage. Tapi tetep ciamiks kok. :) Kelemahannya, karena bahannya kaleng, jadi tidak bisa menyerap kelebihan air seperti si pot terracotta. Jadi, jangan lupa beri lubang di bagian dasarnya, atau bisa coba alternatif dengan pakai pot dalam berlubang, dan si pot kaleng jadi pot luarnya. Kelebihan air bisa dibuang secara berkala.


Rosemary dalam pot kaleng

Step terakhir, tinggal ditata di meja, balkon, atau dimanapun. Beberapa orang yang dapurnya tersorot sinar, bisa menaruh pot-pot herbs di windowsill atau area dekat tap water dan washbasin, sehingga kalau masak dan butuh rempah, gaperlu jauh-jauh ke taman, tinggal petik aja yang dekat. Mau siram, tinggal kucurin tap water. Mhuehehehe...


Jajajaaaa...

Sekian DIY vintage herbs garden yang sudah pernah saya coba. Yuk kalian coba juga. Selain untuk diri sendiri, mereka bisa dijadikan hadiah untuk orang tersayang yang suka masak, atau suka berkebun.

Let's give it a try : )