Showing posts with label Step my feet on. Show all posts
Showing posts with label Step my feet on. Show all posts

Thursday, June 22, 2023

Singkawang, Choi Pan dan Warkop Nikmat

June 22, 2023 0 Comments

 Saya termasuk orang yang jarang berwisata, bahkan ketika tempat wisata itu berada di kota domisili saya sendiri, belum tentu saya pernah mengunjunginya. Hehe, maklum anak rumahan, homebody lah istilahnya. Ke luar Indonesia, semuanya urusan pekerjaan/kantor, belum pernah sekalipun ke luar negeri untuk berwisata atau senang-senang. Nah, di Indonesia sendiri, kota yang penah saya kunjungi bisa dihitung jadi, 2 yang terjauh adalah Medan dan Singkawang (Pontianak). Keduanya saya kunjungi karena nikahan teman, hehe.

Ke Medan, perjalanannya tidak terlalu istimewa, seperti mengunjungi kota lainnya, turun pesawat, naik taxi/travel, lalu sampai di tempat tujuan. Nah, waktu ke singkawang, lebih spesial, karena ternyata masih sangat jauh dari Pontianak, tempat turun pesawat, selain itu, yang menikah di sana adalah sahabat syuper dekat, bisa dibilang soulmate, jadi sangat excited waktu itu datang ke sana. 😃

5 November 2019, kalau saya tidak salah ingat...

adalah tanggal pernikahan sahabat saya, sebut saja Aam, kurang lebih hampir 10 bulan setelah tanggal pernikahan saya sendiri. Bedanya, pernikahannya diselenggarakan di kota kelahiran pihak suami, yang mana adalah Singkawang. Tidak hanya sangat jauh TKP-nya, tapi hari pernikahannya pun di weekday, hari Selasa kalau tidak salah. Alasannya katanya supaya tidak banyak orang yang datang, sehingga menjadi pernikahan hemat 🤣 Monmaap, doski memang agak-agak...

Karena kita suka ceritaan, jadi saya dan suami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan, mulai dari menabung, ambil cuti, berburu tiket pesawat, dll. Kami berangkat dari Bandung di hari Minggu subuh, naik travel menuju bandara Soekarno Hatta sekitar 2-3 jam. Lanjut dari bandara naik pesawat ke arah Pontianak (Bandara Supadio) sekitar 1-1.5 jam. Nah, biasanya kalau ke kota-kota lain, turun pesawat, lanjut naik taxi atau travel, durasi sekitar 1-2 jam atau maksimal 3 jam (misal jkt-bdg) dengan kecepatan standar, lalu sampai di tempat tujuan. Nah ini, setelah sampai di Bandara Supadio itu, sekitar tengah hari, lalu instruksinya adalah naik moda transportasi namanya Surya Express. Counternya memang tersedia di pintu keluar bandara.

Kartu Nama Surya Express
Kartu Nama Surya Express

Awalnya saya kira itu brand taxi atau semacam mobil travel, ternyata setelah dipandu, kami dibawa ke mobil pribadi yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar bandara. Naik mobil itu, ternyata kami harus menunggu mobilnya cukup penuh terisi penumpang. Sekitar 1 jam menunggu, baru mobilnya jalan. Dan... ternyata jalanannya cukup jauh, total waktu yang ditempuh sekitar 4.5 jam dengan ada istirahat sekitar 30 menit sebanyak 1x. Jalanannya tidak terlalu lebar, mobilnya berjalan dengan kecepatan yang tinggi. Kalau di map sekitar 170an km. Jalannya di pinggiran garis pantai, pada beberapa titik yang cukup luang, kita bisa melihat pantai. Pantai atau laut apa tu ya namanya. 🤯

Karena lokasinya memang di pinggir laut, jadi udaranya memang gerah dan bau laut. Tapi pemandangan sepanjang jalan memang sangat jauh dengan kondisi hiruk pikuk perkotaan. Rumah-rumah tanpa yang terlihat dari jalan, halamannya super luas, masih ada pepohonan dan bunga-bunga. Desain rumah maupun warna catnya masih sangat sederhana. Jalanan juga sepi, seperti semua orang sedang berada di rumah untuk tidur siang. 😴

Ada Gereja juga, desainnya sederhana dan bersahaja

Sepii, seperti semuanya kompak tidur sore


Jenis tanaman yang ditanam di pekarangan juga ga macem-macem seperti di kota-kota besar. Ekor tupailah, ekor kuda lah, monstera lah, dan tanaman-tanaman lain yang susah-susah namanya. Di sini kalau halamannya ga ditanami, ya paling yang tumbuh rumput. Kalau pekarangannya ditanami, paling ditanami pohon mangga, pisang, rambutan, kelapa, dll.

Halaman Super Luas Tanpa Pagar dengan Pohon Pisang

Kami sampai di penginapan daerah Jl. Ahmad Yani Singkawang sudah sore banget, dan cuma istirahat sebentar, lalu malamnya diajak makan kwetiaw oleh calon pengantin (meskipun sudah nolak, karena harusnya mereka siap2), malah sempat dibelikan kue basah untuk cemilan, lalu diantar kembali ke penginapan, dan diberikan satu mobil pinjaman barangkali mau kemana-mana, sungguh therlalu memang.

Karena gerahnya, sukulen menjadi tanaman pilihan di penginapan, hihi.

Tanaman Sukulen di penginapan


Besoknya siang hari karena pengin minum yang segar-segar, saya dan suami iseng jalan-jalan ke tempat wisata yang dekat-dekat. Saya lupa nama tempat wisatanya, tapi tidak jauh dari penginapan. Gerah-gerah makan es cincau sambil lihat taman.

Bunga Bougainville di Taman

Jam makan siang, kami sempat mampir di sebuah mall terdekat, Singkawang Grand Mall, makannya di Solaria dan sempet juga beli lipstick karena kelupaan bawa lipen ternyata wkwk. Pilihnya ke Mall, karena adem, kondisi jalanan sungguh gerah meresahkan, mungkin karena belum terbiasa juga ya. 

Kemudian kami juga sempat kenalan dengan 2 rekan dari sahabat saya, yang baru datang dari luar Kalimantan juga, infonya sih mereka ber2 adalah teman seangkatan sahabat saya. Di hari ke2 itu, kami jalan-jalan bareng, dan sempat mengunjungi salah satu kedai kopi legendaris, Warung Kopi Nikmat. Lokasinya ada di area Jalan Sejahtera. Ambience nya sungguh klasik, selain dari ambience si warung kopinya, ambience sekeliling daerah tersebut juga terasa berbeda. Seperti ada kesan kota/wilayah pecinan. 

Warung Kopi Nikmat, Singkawang, 2019

Warung kopinya tidak terlalu besar tapi sepertinya selalu ada pelanggan. Saya cobain es kopi susu klasiknya, disajikan pakai gelas diberi alas piring kecil gitu. Kopinya enak sih, tipikal kopi robusta yang ga ada rasa asemnya. Harga juga ga terlalu mahal. Mereka sedia juga cemilan seperti kue-kuean. Yang unik dan menjadi resep rahasia, selain kopinya sepertinya si kental manisnya deh. Jadi ada satu rak gitu, isinya kental manis semua, untuk stok dan kita juga bisa beli wkwk. Mereka juga jual kopi dalam bentuk kiloan, saya sempat membeli juga untuk dibawa sebagai buah tangan.


Kental Manis yang Dipakai untuk Campuran Kopi Susu


Di hari H pernikahan Sahabat saya, paginya kami ikuti acara sakramen pernikahan di salah satu gereja (dekat situ juga). Selesai acara, karena resepsi baru diadakan malamnya, kami kembali ke penginapan, tukar baju, dan jalan-jalan kembali, hohoho. Siang itu kami mengunjungi salah satu tempat makan Choi Pan. Oh ya, di Singkawang ini, bahasa lokalnya semacam Hakka gitu ya, jenis bahasa Tionghoa gitu, bahkan ada beberapa tempat makan yang kami kunjungi, mereka hampir tidak mengerti bahasa Indonesia, thanks to menu. 

Tempat makan Choi Pan yang kami kunjungi modelnya rumahan gitu, benar2 dibuatkan semacam tempat makan di halaman rumah, Choi Pannya dibuat sendiri. Itu adalah kali pertama saya mengenal dan makan Choi Pan. Jadi Choi Pan itu seperti dimsum, tapi bentuknya khas, isinya bisa kucai, udang, atau bengkoang, dikukus dan di atasnya ditaburi bawang putih goreng yang harum. Kami pesan ketiganya, Kucai, Bengkoang, dan udang. Saya makan yang isi kucai dan bengkoang, dan suprised, cocok di lidah saya. eheheh.

Choipan Asyik, Fresh dari Dandang

Karena dibikin di rumah alias homemade, ketika kami pesan, penjualnya cukup menyalakan dandang kukusan, diberi alas, dan taruh Choi Pan yang sudah dibuat. Sambil menunggu kukusan selesai, kami lihat-lihat cara pembuatannya. Kalau dipikir-pikir seperti membuat mochi gitu. Setelah jadi, penjualnya cuma ambil kukusannya, lalu langsung ditaruh di meja makan. Kami diberi piring dan sumpit untuk memakannya. Sungguh sangat less waste.

Minumannya kami pesan es lemon. Pas datang dan seruput, agak-agak shock karena rasanya asam, manis, dan asin seperti ditambah garam. Rupanya ini memang minuman khas Singkawang, namanya Es Nammong. Terbuat dari jeruk kecil/jeruk purut/jeruk sambal diperas dan diberi gula seperti biasa. Tapi memang ada rasa asinnya sih, seperti dikasih garam, hehe. Segerrr banget minum itu. Penjual di sana kurang bisa bahasa Indonesia, jadi kurang bisa ditanya-tanya untuk eksplorasi. Hiekz...

Di depan halaman ada bunga unik. Bentuknya mirip Euphorbia tapi tidak berduri.

Bunga yang Unik



Bunganya Lucu Seperti Giwang


Dari situ pulang, istirahat di penginapan, dan malamnya ke acara resepsi. Acara resepsinya ramai, lebih banyak rekan/kenalan dari pengantin pria, karena memang kota kelahiran dan besar di sini sih. Saya disiapkan menu catering khusus vegetarian, super-super keterlaluan. Di saat sibuk begitu, si Aam masih saja repot-repot memikirkan preferensi temannya. #tersentuh 😥

Kami di situ lumayan lama, sampai acaranya hampir selesai malah. Karena selain ngobrol dengan Aam dan suami, kami juga akhirnya bertemu keluarga Aam. Kedua orang tua, dan kakak-kakaknya. Tidak lupa berfoto. hehe. Setelah itu, kami berpamitan untuk beristirahat di penginapan. Dan pamit juga pulang ke kota masing-masing.

Esok paginya cukup subuh, kami sudah berada di Surya Express lagi, menuju Pontianak. Saya dan Suami langsung ke bandara untuk menuju Jakarta, 2 teman yang lain memutuskan jalan-jalan dulu, sehingga kami berpisah seingat saya.

Di perjalanan dari Singkawang menuju Pontianak, sempat mampir makan indomie, lucunya dikasi jeruk peras, mirip jeruk untuk Es Nammong.

Indomi dengan Jeruk 


Sampai bandara Soetta sekitar tengah hari, lanjut perjalanan travel ke Bandung, dan sampai sekitar jam 4-5 sore, lalu beristirahat. Kalau dipikir-pikir, sepertinya itu pengalaman terakhir saya dan suami pergi jauh ke luar pulau berdua, selanjutnya sudah ada makhluk kecil yang harus dibawa-bawa. Hihi. Nanti saya ceritakan di postingan lainnya.

Apakah akan mengunjungi Singkawang lagi? probably yes. :) Let see.





Thursday, January 21, 2021

Ada Pohon Sakura di Bogor. Iya Gitu?

January 21, 2021 0 Comments
Lagi buka-buka galeri handphone terus menemukan beberapa foto pohon bunga Sakura yang sempat dikunjungi beberapa tahun lalu. Saya upload di sini ah, barangkali jadi inspirasi untuk dikunjungi, tentunya setelah pandemi Covid19 ini berlalu ya. Juga sebagai informasi, kalau Sakura juga ternyata bisa tumbuh di Indonesia :) 
 Foto-foto ini saya ambil di sekitar bulan Januari 2018 kalau tidak salah. Waktu itu ada acara jalan-jalan dari kantor, tempat di mana saya mencari rejeki. Singkat cerita ini jalan-jalan terpaksa, karena minta disponsori jalan-jalan oleh kantor, tapi tidak diapprove. Jadilah kami-kami ini karyawan yang sudah jengah bekerja tetapi ndak libur-libur, mengadakan acara sendiri ehehe. 

 Ada hal yang disayangkan dari acara jalan-jalan ini, yaitu mengunjunginya di musim hujan, jadi kurang poll gitu loh, jalanannya becek, licin, dan sempat kehujanan juga. Ehehe. 

 Baiklah, nama tempatnya adalah Kebun Raya Cibodas, letaknya di pinggiran kota Bogor. Waktu itu saya ke sana naik bis bersama rekan-rekan kerja. Asyik sekali karena bisa kenalan dengan anggota keluarga yang lain. Ada yang bawa anak, pasangan, dll. Waktu itu status saya masih single, jadi sendirian saja, duduknya bersama teman yang single juga ohoho. 

 Berangkat pagi-pagi sekitar jam 6.00 dari daerah Jakarta Selatan, sampai di Kebun Raya Cibodas sekitar jam 8.30. Perjalanan enggak begitu macetos, karena masih pagi kali ya. Bis parkir agak jauh dari pintu masuk, dekat semacam pasar kecil gitu. Ada yang jual kelinci (pengin beyi), hasil kebun, dan tanaman hias kayak farmer's market gitu, versi merakyat. Jalan sekitar 400 meter, lalu sampailah di pintu masuk. Sayang sekali saya tidak memotret pintu masuknya nih. Waktu itu karena musim hujan, jam 9an pun masih ada kabut tipis, yah kami-kami cukup terpana, maklum jarang lihat kabut di Jakarta, seringnya lihat kabut bis kota. Uhuhuhu... T_T' 

 Pintu masuknya enggak begitu besar, tapi pas masuk, langsung dihadapkan yang ijo-ijo, duhhh...
Ulala


Bagi pegawai di Ibu Kota, melihat hamparan hijau begini dan udara yang bersih itu kesan tersendiri. Merefresh otak banget, yang tiap hari lihatnya layar monitor, laporan keungan, menghirupnya asap knalpot dan debu jalanan produk macet.

Jalan kaki terus ke dalam, turut tebing dikit, ketemu danau kecil, duh cantiknya. Suhu airnya setara dengan air mineral yang sudah dimasukkan ke showcase.

Beningnya Seperti Air Minum


Bocah-bocah ga sabar main-main air, bahkan ada yang sudah persiapan banget bawa baju renang, lalu berenang-renang kecil. Semoga tydac masuk angin karena baik air maupun udaranya di bawah suhu normal Jakarta biasanya. Saya sih cari tempat kering, terus duduk sambil makan popmi dan jagung bakar yang dijual ga jauh dari situ.

Lihatlah ke Situ, Ada Tenda Penjual Jagung Bakar dan Popmi

Menuju pohon Sakura, kita harus menyeberangi aliran sungai ini, nyesel ga bawa sandal, jadi sepatu agak-agak basah kena air. Airnya jernih sekali sih, jadi gapapa deh. =P

Kayak di Manaa Gitu


Terus berjalan, nantinya danau tadi mengalirkan airnya ke sungai sempit ini. Waktu itu karena musim hujan, pengunjungnya sedikit sekali. Katanya, kalau lagi ramai, di kanan kiri sungai ini banyak orang pasang karpet dan berpiknik ria.

Ahem, Jangan Ganggu Ah

Nah, akhirnya ketemu juga dengan pohon Sakura. Penampakannya seperti pohon bungur ya, tapi minim jumlah daun. Awalnya agak was, was, apa ada yang lagi mekar? Kan sayang banget kalau ke mari tapi sedang tidak ada yang mekar. Dan, jajaja, ternyata memang ada yang sedang bermekaran, meskipun tidak begitu banyak hingga berguguran.













Bunga Sakura ini ternyata memang cantik, tapi saya endus-endus, tidak ada aromanya sih. Kalau diamati, bunganya ada yang berwarna pink tua, dan ada juga yang berwarna pink muda. Meskipun belum bisa ber-ohanami ria (menikmati keindahan bunga Sakura ala Jepang) dengan berpiknik sembari dihujani sepal-sepal bunga Sakura, melihatnya juga sudah merupakan pengalaman yang langka ehehe. Jadi, saya sih senang-senang saja. 

Setelah berpiknik sebentar, makan nasi kotak (tanpa bunga Sakura yang berguguran tentunya), kami pun beranjak pulang karena sudah mulai gerimis. Waktu itu sekitar pukul 1, sebetulnya masih betah sih, tapi mengingat hujan yang akan turun dan juga kemacetan yang semakin siang semakin uwow, kami pun memutuskan check out.

Pesan saya untuk teman-teman yang berkunjung ke tempat wisata, kita kan berwisata ingin menikmati keindahan, melepas penat, please, jaga keindahannya, jangan buang sampahmu sembarangan dan jangan merusak, supaya tetap indah. Kalau bisa, bertindaklah lebih manusiawi dengan mengambil sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (yang kurang manusiawi karena bertingkah laku lebih rendah dari hewan, map kasar, sebal habisnya). Dengan begitu, tempat wisata tetap indah, dan kita juga mendapat kebaikan.

:)

Wednesday, December 13, 2017

Berkunjung ke Kebun Bunga Grace Rose Farm Yuk!

December 13, 2017 2 Comments
Nyadar nggak sih, aktivitas kita di weekdays sebagai orang produktif itu cukup membosankan?
Bangun pagi, sarapan, bekerja atau mengurus rumah tangga, lalu kelelahan, besoknya begitu lagi. Saya juga merasa demikian, sehingga betul kata quotes-quotes itu, katanya kita harus mengisi weekend kita dengan kegiatan-kegiatan yang bisa mengisi ulang jiwa kita (*tsah) dengan apasaja yang kita sukai sehingga ketika hari Senin datang, kita sudah terisi penuh dengan semangat baru. Nah, karena saya suka tetumbuhan dan tetananaman, akhir pekan saya khususkan untuk kegiatan-kegiatan yang saya sukai berkaitan dengan tanaman dan tumbuhan. Main tanah, menanam ini itu, merawat tanaman, dll. Daan, salah satu yang patut dicoba adalah berkunjung ke kebun bunga. : )
Salah satu yang bisa menjadi bahan pertimbangan adalah Grace Rose Farm.

Toko Souvenir Mini di Grace Rose Farm

Saya sendiri baru tahu tempat ini (mungkin karena kurang gaul). Terletak di bagian utara Kota Bandung dekat dengan Curug (air terjun) Cimahi, menjadikan tempat ini cucok sekali untuk menanam bunga-bunga, yang mana sangat menyukai tanah yang dingin dan sinar matahari penuh.


Bunga Calibrachoa yang Cantik
 Memasuki pintu masuk, Anda akan diminta membayar sebesar 25 ribu rupiah kalau tidak salah  ya. Di pintu masuk ini, selain ada loket karcis (kok kayak jaman dulu), mata sudah disuguhi pemandangan syantik dari bunga-bunga yang berwarna-warni. Salah satunya bunga Calibrachoa a.k.a. small petunia a.k.a. million bells ini.



Ladang Bunga Potong
Jangan tertipu dengan pintu masuknya yang mini, setelah melewati pintu masuk, kamu akan bisa melihat-lihat sepuasnya kesana kemari sambil menghirup udara segar tanpa asap dan polusi. Yang unik disini, kamu bebas berjalan-jalan kemana saja, asalkan menjaga kelakuan. Jangan menginjak tanaman, jangan memetik bunga, jangan merusak properti, jangan buang sampah sembarangan.

Ladang Bunganya Luas Sekali Yap?
Nggak cuma itu, kamukamu yang suka film Bollywood dan ingin merasakan serunya berlari-lari di ladang bunga, bisa kok. Ladangnya luaaas sekali, bisa lari kesana-kemari deh pokoknya. Eh, jangan lupa pakai losyen dan topi ya. Terutama kalau jalan-jalannya di musim panas.


Gerbera Daisy yang Masih Kuncup
Di sini banyak juga green house-nya. Green house berfungsi melindungi tanaman dari serangan hama dan cuaca yang ekstrim. Gerbera Daisy ini juga ditanam di dalam green house loh.


Hydrangea yang Menawan
Sempat juga berkunjung ke green house yang isinya bunga hydrangea. Bunganya besar, kayak pom-pom nya cheerleader.


Warna bunga Hydrangea tergantung dari keasaman tanahnya
Kalau inget pelajaran tentang asam basa waktu jaman SMA, pasti tau nih, kenapa bunga-bunga hydrangea ini warnanya macam-macam begitu.


Green house hydrangea

Tillandsia
Selain bunga, banyak juga loh Tillandsia disini. Ituloh tanaman udara (airplant) yang tidak membutuhkan tanah untuk hidup. Kalau kamu mau coba menanam tapi malas menyiram, dan malas kotor-kotoran, Tillandsia ini patut dicoba. Cukup disemprot dan ga perlu main tanah.


Aneka bunga mawar
Grace Rose Farm ini menerima pesanan bunga potong segar. Karena dipotong langsung dari kebunnya, bunga-bunganya cantik dan segar-segar. Kalau jalan sama pacar kesini, jangan lupa minta dibelikan yaa. Mhuehehehe...


Aneka Succulent

Ouw iya, satu lagi tanaman lucu yang patut dipertimbangkan untuk dipelihara karena perawatannya ga ribet, adalah succulent. Banyak juga loh succulent nya di sini. Harganya terjangkau, mulai dari 15 ribuan aja.


Bunga mawar yang warnanya jarang

Nah, kalau yang ini bunga petunia

Gerbera Daisy yang sudah mekar menyapa dunia
Gerbera Daisy katanya termasuk penyerap polutan di udara loh. Dudududu, udah cantik, ada fungsinya lagi. Bisa banget nih kamu tanam ini di halaman depan rumah.


Warnanya bikin silau

Ahh... cantik syekaliii

Ladang bunga Gerbera Daisy

Bunga petuniaaa

Bunga Calibrachoa lagiii

Pansy
Pernah mencoba menanam bunga Pansy, dari 5 percobaan, baru sekali yang berhasil. Belum menemukan chemistry-nya nih. Setiap tanam, selalu mati sebelum besar. Coba deh menanam Pansy (Viola), bunganya cantik dan mungil.

Pansy Lagi

Pansy

Green house sayuran
Ada green house yang isinya sayuran juga loh. Tapi kebanyakan ditanam dengan sistem hidroponik. Kamu bisa cari tahu, perjalanan tanaman dari kecil jadi besar dengan metode tanam hidroponik. Kebanyakan sih kangkung, aneka sawi dan selada.


Nasturtium Empress of India
Selalu gereget kalau lihat bunga nasturtium. Masalahnya gapernah bisa menanam sampai jadi sebesar ini. Lihat deh di foto bawah, tanamannya segede apa.


Nasturtium segede jerapah

Bunga cosmos putih
Eh iya, kalau kamu suka bunga juga, dan pengen mencoba menanam bunga dari benih (biji), cobain deh si cosmos ini. Mudah banget tumbuh, dalam waktu 6 minggu bahkan sudah bisa berbakti memberi bunga. : )
Cosmos pink

Cosmos pink dan fuschia

Sunflower <3 td="">

Sunflowernya hepi hepi nih di sini

Tinggal pasang posisi di tengah situ sambil berpose dramatis, lalu cekrek

Langsung terngiang lagu Kuch Kuch Hota Hai gini

Blissful


Gladiol

Carnation a.k.a. Anyelir

Ladang Anyelir


Kupu-kupu

Karena banyak sekali bunga, maka jangan heran kalau kamu lihat banyak kupu-kupu. Bukan main, kupu-kupu disini warnanya cantik. Beda dengan kupu-kupu di kota yang warnanya putih, hitam, abu-abu melulu.


Lalalalala...

Calibrachoa berwarna shocking pink

Oh Calibrachoa
Sepulang dari sini, jangan lupa membeli 1 atau 2 tanaman untuk dirawat yaa. Menanam itu menyenangkan dan menyehatkan. Bantu dunia menghasilkan oksigen. Oh ya, setiap tiket yang dibayar, sudah termasuk souvenir berupa succulent mini. Jadi kamu tidak pulang dengan tangan hampa  : )