Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Thursday, March 20, 2025

Depresi, Bagaimana Rasanya?

March 20, 2025 0 Comments

 de·pres·sion

noun

feelings of severe despondency and dejection

[perasaan putus asa dan patah semangat yang parah]



Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai proses berpikir, berperasaan dan berperilaku seseorang. Seseorang yang depresi memperlihatkan perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan, disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan.


Itu pengertian depresi yang saya dapat dari hasil browsing. Sebatas itulah pemahaman saya mengenai depresi. Bagi saya depresi adalah kondisi yang abstrak, sebelum saya mengalaminya sendiri pada tengah tahun 2021.


Belakangan ini kita mengalami (kalau boleh disebut) "kebanjiran" informasi. Adanya media/platform seperti instagram, twitter/X, bahkan blog ini pun, membuat kita dengan mudahnya mendapatkan informasi. Informasinya sungguh beragam, mulai dari sekadar berita, hoax atau gosip, hobby, bahkan kehidupan orang lain.


Kita tidak bisa mengatur apa yang orang lain bagikan di media sosialnya. Kita yang bukan subjeknya, menjadi penikmat dan pengkritik sejati (netizen). Saya rasa itulah sebabnya muncul istilah 'selebgram'. Mereka yang pada media sosialnya membagikan kisah kehidupan  -dan kebetulan relevan dengan minat netizen, entah itu karena kerupawanan, kelucuan, kontroversi, atau sekadar mengalami kisah yang mirip- bisa dengan mudahnya menjadi terkenal.


Seyogianya kita memiliki kapasitas untuk mengontrol informasi apa yang kita akses dan berapa lama kita mengaksesnya. Namun, platform-platform itu juga terus berkembang sedemikian rupa sehingga memancing kita kehilangan kontrol. Scrolling yang niatnya hanya mengisi waktu luang 15 menit bisa berakhir menjadi berjam-jam. Saya berani bertaruh, pasti jarang sekali pemilik sosial media yang durasi screen time nya di bawah 4 jam. XD


Saya tidak bermaksud mengkritik, karena saya pun demikian, sampai suatu waktu di pertengahan 2021 saya mengalami depresi. Loh kok bisa scrolling scrolling bikin depresi?


Siang itu saya sedang scrolling instagram, sambil ngaso. Klik sana sini, scrolling sana sini, sampailah saya ke akun seorang wanita, ibu muda berputra 1. Anaknya masih sekitaran 4 atau 5 tahun saya rasa. Wanita ini melalui reels yang singkat membagikan kisahnya melawan penyakit mematikan.


Tanpa rasa bangga, saya mengakui bahwa saya adalah orang dengan empati yang sangat tinggi. Sekelebat saja kisah kehidupan orang yang tak sengaja saya dapat, bisa dengan mudahnya memberikan saya efek balik berupa perasaan yang kemungkinan besar orang itu rasakan. Misalnya ketika melihat orang homeless di pinggir jalanan, seketika saja saya bisa membayangkan rasa aspal panas yang menyentuh kaki dan betisnya, rasa lengket dan bau di badan karena bermandi keringat, tenggorokan yang mencari-cari ludah untuk ditelan karena sangat kering, dan lain-lain. Menyusahkan memang. :(


Kali itu saya melihat reels, gambar bergerak yang tentunya memberikan lebih banyak citra. Sedih sekali melihatnya. Karena termakan perasaan dan penasaran, saya pergi ke profile si wanita ini. Lebih terpukul lagi, karena ternyata dia baru saja meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Saya lihat di profilenya ada highlight/lini masa yang khusus menceritakan awal mula perjuangannya melawan penyakit mematikan itu, sampai akhir ditutup dengan momen kecil bersama anaknya, sekitar 1 hari sebelum dia meninggal.


Mungkin saat itu saya sedang kelelahan, dan iman sedang goyah (haha) sehingga kumpulan story itu berhasil membuat saya terpukul dan benar-benar sedih, lalu berlanjut menjadi kekhawatiran. Awalnya cuma kekhawatiran yg tidak terlalu mengganggu, namun karena tadi itu ya, iman sedang goyah, baru recover dari baby blues. Seperti naga, dari ukuran yg kecil, dalam waktu singkat, kekhawatiran saya berubah menjadi sangat besar, overthinking.


Dalam beberapa hari, pikiran saya semakin parah, khawatir bagaimana kalau hal buruk itu terjadi pada saya, si bocil bagaimana, biaya pengobatannya bagaimana, dan kekhawatiran lain yang tidak masuk akal. Tapi pikiran-pikiran ini berhasil membuat saya terperangkap dalam kekhawatiran, tidak minat menjalani hari, makan tidak ada rasanya (ga napsu makan sama sekali), tidur selalu malam dan gelisah.


Rasanya selalu dingin (bahkan mandi pun sering menggigil), kelam, dan kesepian. Seolah-olah hanya saya yang merasakan, dan tidak bisa bercerita sama orang lain. Desperate, saya minta ibunda datang menemani, tapi tidak terlalu membantu. Mau nonton drakor lucu, minatnya pun tidak ada. Benar-benar payah selama beberapa bulan.


Hingga pada suatu momen, saya berpikir pakai logika karena sudah betul-betul tidak bisa enjoy dengan hidup. 

Apa yang membuat saya depresi? Kekhawatiran


Kenapa khawatir?karena takut sesuatu yang buruk terjadi. Sesuatu yang tidak mampu saya tangani.


Kenapa takut? 

Bukannya kamu percaya adanya Tuhan? Apakah Tuhan pernah memberikan cobaan yang melampaui kemampuan mu? 

Cobaan-cobaan yang kamu hadapi selama ini bukankah bisa kamu lewati semua sehingga kamu sampai di titik ini?

Apakah sudah berdoa dan meminta Tuhan memulihkan overthinkingmu?


Ini bukan posting mengenai hal-hal yang berbau religius. Saya hanya ingin share apa yang saya alami. Tuhan menegur saya melalui kumpulan pertanyaan terakhir yang belum ada jawabannya itu. Saya terhentak dan mulai tersadar bahwa depresi yang saya rasa bersumber dari kekacauan pikiran saya sendiri.


Saya mulai berdoa dan memohon penyembuhan untuk mental saya yang sedang tidak baik-baik saja. Lalu pada suatu siang di kantor saat sedang pumping, saya diarahkan untuk mendengarkan sebuah lagu berikut.


https://www.youtube.com/watch?v=U8EDgciZZFc&pp=ygUPamVzdXMgaXQgaXMgeW91




Di situ saya menangis, benar-benar menangis. Merasa sangat bodoh berpikir overthinking, padahal ada Tuhan yang selalu memperhatikan dan mengasihi saya. Ada kekuatan yang besar, yang mampu menciptakan kita dan menjaga kita. Kenapa meredupkan cahaya kekuatan itu dengan pikiran yang tidak terjadi?


Saya juga sadar, ternyata kita punya 2 opsi. Menjalani kehidupan ini dengan energi positif (sukacita, bersyukur, tersenyum, harapan, persahabatan) atau dengan energi negatif (mengeluh, mengumpat, bersedih, khawatir). 


Sejak hari itu, saya mengatur pikiran saya untuk memilih energi positif. Setiap kali rasa khawatir itu datang, saya mulai bergerak, mencari energi positif, bermain dengan bocil, colek sobat jauh, gelitik suami, dan hal-hal lainnya yang saya yakin akan membuat saya bahagia dan tersenyum.


Beberape pekan kemudian, awan gelap itu sudah sirna. Semuanya kembali cerah, makanan terasa enak, mandi terasa segar, tidur nyenyak, dan saya bisa berbahagia.


Teruntuk pembaca yang mungkin sedang mengalami hal yang pernah saya rasakan juga, depresi. Kembalilah kepada asalmu, kepada kekuatan tak terhingga yang telah menciptakan kita, carilah cahaya dan energi positif di sekelilingmu, pikirkan kembali kenapa harus bersedih, kenapa harus depresi, kenapa marah? kenapa merugi? di saat kita bisa tersenyum, memberikan cinta pada sekeliling, kedamaian dan tawa.  

Thursday, June 22, 2023

Singkawang, Choi Pan dan Warkop Nikmat

June 22, 2023 0 Comments

 Saya termasuk orang yang jarang berwisata, bahkan ketika tempat wisata itu berada di kota domisili saya sendiri, belum tentu saya pernah mengunjunginya. Hehe, maklum anak rumahan, homebody lah istilahnya. Ke luar Indonesia, semuanya urusan pekerjaan/kantor, belum pernah sekalipun ke luar negeri untuk berwisata atau senang-senang. Nah, di Indonesia sendiri, kota yang penah saya kunjungi bisa dihitung jadi, 2 yang terjauh adalah Medan dan Singkawang (Pontianak). Keduanya saya kunjungi karena nikahan teman, hehe.

Ke Medan, perjalanannya tidak terlalu istimewa, seperti mengunjungi kota lainnya, turun pesawat, naik taxi/travel, lalu sampai di tempat tujuan. Nah, waktu ke singkawang, lebih spesial, karena ternyata masih sangat jauh dari Pontianak, tempat turun pesawat, selain itu, yang menikah di sana adalah sahabat syuper dekat, bisa dibilang soulmate, jadi sangat excited waktu itu datang ke sana. 😃

5 November 2019, kalau saya tidak salah ingat...

adalah tanggal pernikahan sahabat saya, sebut saja Aam, kurang lebih hampir 10 bulan setelah tanggal pernikahan saya sendiri. Bedanya, pernikahannya diselenggarakan di kota kelahiran pihak suami, yang mana adalah Singkawang. Tidak hanya sangat jauh TKP-nya, tapi hari pernikahannya pun di weekday, hari Selasa kalau tidak salah. Alasannya katanya supaya tidak banyak orang yang datang, sehingga menjadi pernikahan hemat 🤣 Monmaap, doski memang agak-agak...

Karena kita suka ceritaan, jadi saya dan suami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan, mulai dari menabung, ambil cuti, berburu tiket pesawat, dll. Kami berangkat dari Bandung di hari Minggu subuh, naik travel menuju bandara Soekarno Hatta sekitar 2-3 jam. Lanjut dari bandara naik pesawat ke arah Pontianak (Bandara Supadio) sekitar 1-1.5 jam. Nah, biasanya kalau ke kota-kota lain, turun pesawat, lanjut naik taxi atau travel, durasi sekitar 1-2 jam atau maksimal 3 jam (misal jkt-bdg) dengan kecepatan standar, lalu sampai di tempat tujuan. Nah ini, setelah sampai di Bandara Supadio itu, sekitar tengah hari, lalu instruksinya adalah naik moda transportasi namanya Surya Express. Counternya memang tersedia di pintu keluar bandara.

Kartu Nama Surya Express
Kartu Nama Surya Express

Awalnya saya kira itu brand taxi atau semacam mobil travel, ternyata setelah dipandu, kami dibawa ke mobil pribadi yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar bandara. Naik mobil itu, ternyata kami harus menunggu mobilnya cukup penuh terisi penumpang. Sekitar 1 jam menunggu, baru mobilnya jalan. Dan... ternyata jalanannya cukup jauh, total waktu yang ditempuh sekitar 4.5 jam dengan ada istirahat sekitar 30 menit sebanyak 1x. Jalanannya tidak terlalu lebar, mobilnya berjalan dengan kecepatan yang tinggi. Kalau di map sekitar 170an km. Jalannya di pinggiran garis pantai, pada beberapa titik yang cukup luang, kita bisa melihat pantai. Pantai atau laut apa tu ya namanya. 🤯

Karena lokasinya memang di pinggir laut, jadi udaranya memang gerah dan bau laut. Tapi pemandangan sepanjang jalan memang sangat jauh dengan kondisi hiruk pikuk perkotaan. Rumah-rumah tanpa yang terlihat dari jalan, halamannya super luas, masih ada pepohonan dan bunga-bunga. Desain rumah maupun warna catnya masih sangat sederhana. Jalanan juga sepi, seperti semua orang sedang berada di rumah untuk tidur siang. 😴

Ada Gereja juga, desainnya sederhana dan bersahaja

Sepii, seperti semuanya kompak tidur sore


Jenis tanaman yang ditanam di pekarangan juga ga macem-macem seperti di kota-kota besar. Ekor tupailah, ekor kuda lah, monstera lah, dan tanaman-tanaman lain yang susah-susah namanya. Di sini kalau halamannya ga ditanami, ya paling yang tumbuh rumput. Kalau pekarangannya ditanami, paling ditanami pohon mangga, pisang, rambutan, kelapa, dll.

Halaman Super Luas Tanpa Pagar dengan Pohon Pisang

Kami sampai di penginapan daerah Jl. Ahmad Yani Singkawang sudah sore banget, dan cuma istirahat sebentar, lalu malamnya diajak makan kwetiaw oleh calon pengantin (meskipun sudah nolak, karena harusnya mereka siap2), malah sempat dibelikan kue basah untuk cemilan, lalu diantar kembali ke penginapan, dan diberikan satu mobil pinjaman barangkali mau kemana-mana, sungguh therlalu memang.

Karena gerahnya, sukulen menjadi tanaman pilihan di penginapan, hihi.

Tanaman Sukulen di penginapan


Besoknya siang hari karena pengin minum yang segar-segar, saya dan suami iseng jalan-jalan ke tempat wisata yang dekat-dekat. Saya lupa nama tempat wisatanya, tapi tidak jauh dari penginapan. Gerah-gerah makan es cincau sambil lihat taman.

Bunga Bougainville di Taman

Jam makan siang, kami sempat mampir di sebuah mall terdekat, Singkawang Grand Mall, makannya di Solaria dan sempet juga beli lipstick karena kelupaan bawa lipen ternyata wkwk. Pilihnya ke Mall, karena adem, kondisi jalanan sungguh gerah meresahkan, mungkin karena belum terbiasa juga ya. 

Kemudian kami juga sempat kenalan dengan 2 rekan dari sahabat saya, yang baru datang dari luar Kalimantan juga, infonya sih mereka ber2 adalah teman seangkatan sahabat saya. Di hari ke2 itu, kami jalan-jalan bareng, dan sempat mengunjungi salah satu kedai kopi legendaris, Warung Kopi Nikmat. Lokasinya ada di area Jalan Sejahtera. Ambience nya sungguh klasik, selain dari ambience si warung kopinya, ambience sekeliling daerah tersebut juga terasa berbeda. Seperti ada kesan kota/wilayah pecinan. 

Warung Kopi Nikmat, Singkawang, 2019

Warung kopinya tidak terlalu besar tapi sepertinya selalu ada pelanggan. Saya cobain es kopi susu klasiknya, disajikan pakai gelas diberi alas piring kecil gitu. Kopinya enak sih, tipikal kopi robusta yang ga ada rasa asemnya. Harga juga ga terlalu mahal. Mereka sedia juga cemilan seperti kue-kuean. Yang unik dan menjadi resep rahasia, selain kopinya sepertinya si kental manisnya deh. Jadi ada satu rak gitu, isinya kental manis semua, untuk stok dan kita juga bisa beli wkwk. Mereka juga jual kopi dalam bentuk kiloan, saya sempat membeli juga untuk dibawa sebagai buah tangan.


Kental Manis yang Dipakai untuk Campuran Kopi Susu


Di hari H pernikahan Sahabat saya, paginya kami ikuti acara sakramen pernikahan di salah satu gereja (dekat situ juga). Selesai acara, karena resepsi baru diadakan malamnya, kami kembali ke penginapan, tukar baju, dan jalan-jalan kembali, hohoho. Siang itu kami mengunjungi salah satu tempat makan Choi Pan. Oh ya, di Singkawang ini, bahasa lokalnya semacam Hakka gitu ya, jenis bahasa Tionghoa gitu, bahkan ada beberapa tempat makan yang kami kunjungi, mereka hampir tidak mengerti bahasa Indonesia, thanks to menu. 

Tempat makan Choi Pan yang kami kunjungi modelnya rumahan gitu, benar2 dibuatkan semacam tempat makan di halaman rumah, Choi Pannya dibuat sendiri. Itu adalah kali pertama saya mengenal dan makan Choi Pan. Jadi Choi Pan itu seperti dimsum, tapi bentuknya khas, isinya bisa kucai, udang, atau bengkoang, dikukus dan di atasnya ditaburi bawang putih goreng yang harum. Kami pesan ketiganya, Kucai, Bengkoang, dan udang. Saya makan yang isi kucai dan bengkoang, dan suprised, cocok di lidah saya. eheheh.

Choipan Asyik, Fresh dari Dandang

Karena dibikin di rumah alias homemade, ketika kami pesan, penjualnya cukup menyalakan dandang kukusan, diberi alas, dan taruh Choi Pan yang sudah dibuat. Sambil menunggu kukusan selesai, kami lihat-lihat cara pembuatannya. Kalau dipikir-pikir seperti membuat mochi gitu. Setelah jadi, penjualnya cuma ambil kukusannya, lalu langsung ditaruh di meja makan. Kami diberi piring dan sumpit untuk memakannya. Sungguh sangat less waste.

Minumannya kami pesan es lemon. Pas datang dan seruput, agak-agak shock karena rasanya asam, manis, dan asin seperti ditambah garam. Rupanya ini memang minuman khas Singkawang, namanya Es Nammong. Terbuat dari jeruk kecil/jeruk purut/jeruk sambal diperas dan diberi gula seperti biasa. Tapi memang ada rasa asinnya sih, seperti dikasih garam, hehe. Segerrr banget minum itu. Penjual di sana kurang bisa bahasa Indonesia, jadi kurang bisa ditanya-tanya untuk eksplorasi. Hiekz...

Di depan halaman ada bunga unik. Bentuknya mirip Euphorbia tapi tidak berduri.

Bunga yang Unik



Bunganya Lucu Seperti Giwang


Dari situ pulang, istirahat di penginapan, dan malamnya ke acara resepsi. Acara resepsinya ramai, lebih banyak rekan/kenalan dari pengantin pria, karena memang kota kelahiran dan besar di sini sih. Saya disiapkan menu catering khusus vegetarian, super-super keterlaluan. Di saat sibuk begitu, si Aam masih saja repot-repot memikirkan preferensi temannya. #tersentuh 😥

Kami di situ lumayan lama, sampai acaranya hampir selesai malah. Karena selain ngobrol dengan Aam dan suami, kami juga akhirnya bertemu keluarga Aam. Kedua orang tua, dan kakak-kakaknya. Tidak lupa berfoto. hehe. Setelah itu, kami berpamitan untuk beristirahat di penginapan. Dan pamit juga pulang ke kota masing-masing.

Esok paginya cukup subuh, kami sudah berada di Surya Express lagi, menuju Pontianak. Saya dan Suami langsung ke bandara untuk menuju Jakarta, 2 teman yang lain memutuskan jalan-jalan dulu, sehingga kami berpisah seingat saya.

Di perjalanan dari Singkawang menuju Pontianak, sempat mampir makan indomie, lucunya dikasi jeruk peras, mirip jeruk untuk Es Nammong.

Indomi dengan Jeruk 


Sampai bandara Soetta sekitar tengah hari, lanjut perjalanan travel ke Bandung, dan sampai sekitar jam 4-5 sore, lalu beristirahat. Kalau dipikir-pikir, sepertinya itu pengalaman terakhir saya dan suami pergi jauh ke luar pulau berdua, selanjutnya sudah ada makhluk kecil yang harus dibawa-bawa. Hihi. Nanti saya ceritakan di postingan lainnya.

Apakah akan mengunjungi Singkawang lagi? probably yes. :) Let see.





Tuesday, June 6, 2023

Naksir Pertama

June 06, 2023 0 Comments

 Apa itu naksir pertama? Sebenernya pengin nulis cinta pertama, tapi pengalaman naksir pertama kali, itu di waktu SD (Sekolah Dasar) jadi mungkin itu bukan cinta ya tapi lebih ke yang populer disebut dengan cinta monyet. Daripada saru dengan istilah monyet 😛, mari kita sebut saja "naksir pertama".


Tubuh kita itu sangat unik. Panca indera, otak, enzim, hormon, organ tubuh,dll menentukan siapa diri kita, bagaimana cara kita berpikir, kapan kita marah, kapan kita kepengin makan, kepengin tidur, termasuk kapan kita mulai naksir sama lawan jenis.


Pertama kali ada perasaan naksir, itu di waktu SD, kalau ga salah mulai kelas 4 apa 5 gitu deh. Adalah seseorang di kelas inisial A, yang langganan jadi ketua murid. Ga tau gimana, mungkin kombinasi enzim dan hormon wakakak, saya itu penyuka laki-laki yang cerdas. Jadi si A ini selain langganan jadi ketua murid, doski juga langganan jadi peringkat 1 di kelas, jaman dulu kan identik banget ye anak laki-laki juara 1 jadi KM. Agak-agak lupa (maklum SD tahun 1995-2001, dah jadoel), sepertinya doski anak pindahan deh.


Foto diambil dari browsing, situs sekolahkita kalau taksalah


Awalnya biasa aja, tapi kok seneng gitu lihat doski, terutama pas udah keliatan banget kecerdasannya. Ditanya guru selalu jawab dengan betul, terus Rank 1 di kelas, semester depannya rank 1 lagi. Mulai deh jatuh hati. Ga pernah mudah dekat dengan anak laki-laki karena pemalu, tetapi dengan yang ini, perasaannya betulan campur aduk. Kebetulan rumah kami searah dan ke sekolah naik angkot. Kalau mau naik angkot agak-agak berharap seangkot sama doski. Tapi pernah suatu kali seangkot, groginya kanmaen, turun duluan, mau pamit aja, kata-kata kayaknya nyangkut di amandel, berujung turun duluan tanpa pamit.


Setiap hari senin suka ada pengecekan kuku sebelum masuk kelas, dan KM yang bertugas mengecek. Duuh, gemeterrr banget pas giliran saya nunjukin kuku/ 🥶 Kalau pas kuku panjang, terus harus digeplak tangannya, saya merasa geplakan doski tidak sekencang ke anak lainnya, fix 100% ini perasaan saja sih kayaknya.


Suatu hari di jam tidak sibuk, saya melihat doski dikerubungi teman-teman, rupanya lagi bagi-bagi souvenir. Ayahnya yang habis dinas luar ke Jepang bawa oleh-oleh berupa gantungan kunci warna emas dan hiasan tasel warna merah, unyu. Salah satu teman dari gank saya ikutan mengerubungi, meskipun telat. "Oi minta dong oi, mau juga akuuu." Teman yang satunya tidak kalah juga, ikutan minta, "Mau juga akuuu." Karena kumpulan sudah mulai bubar, si A menoleh, "waduu kamu telat deh ah, ini tinggal satu gantungannya, kalian ber4 (anggota gank kuper, termasuk saya berjumlah 4 orang) hompimpa ajaa, yang menang dapet nih, tinggal satu-satunya."


Jujur, saya bukan orang yang selalu bersemangat untuk mendapatkan hadiah, lebih cenderung ke pasrah sih. Tapi yasudahlah, karena diajak juga, jadi ikutan hompimpa, dan voilaa tak disangka-sangka, saya dong yang menang. wkwkwk. Uuuh, seneng banget deh, bawa pulang dan digantung di tembok kamar (sekarang pastinya sudah hilang entah kemana hihihi).


Kalau dipikir-pikir lucu aja gitu, bisa ada perasaan berbunga-bunga setiap hari kalau ke sekolah. Sampai pernah saya minta dibelikan tas sekolah yang mirip dengan punya dia. Susah payah meminta, akhirnya dibelikan juga oleh Mama dan Papa, dengan syarat saya cabut gigi gingsul (syuper pedih, pakai disuntik segala kelas 4 SD). 😖 Tapi seneng banget bisa punya tas yang mirip.


Salah satu yang bikin sedih meninggalkan sekolah dasar adalah harus berhenti bisa melihat doski setiap senin-sabtu. Masalahnya karena doski begitu cemerlang, doski bisa masuk sekolah SMP terbaik 5 besar di Bandung. Sedangkan saya, karena terjadi insiden nilai IPS jeblok (sains dan matematika di atas 8 semua tapi IPS 4) 😭, saya masuk SMP 5 besar juga, tapi dari bawah. 😭😭😭 Sungguh jauh berbeda nasib kami. Ngomong-ngomong soal IPS dapet nilai 4, beruntungnya saya pada jaman itu belum ada nilai batas minimum, karena kalau ada, maka saya tidak lulus SD. 😫 Saya memang sangat kepayahan dalam IPS dan IPU, RPUL berjilid-jilid juga tidak membantu rupanya.


Jadi kisah pertemuan dengan si naksir pertama, berakhir sampai di sini. Doski melanjutkan sekolah di SMP 14, lalu sempat berharap juga bisa di SMA yang sama, tetapi nasib juga belum mau mempertemukan lagi. Doski masuk SMA terbaik (SMA 3), sedangkan saya sudah jungkir balik tergopoh gopoh mumet belajar, baru mampu masuk SMA peringkat 8 (puji syukur sekarang peringkat 8 dari atas yaa, bukan dari bawah, wkwkwk). Lalu berkuliah, doski masuk ITB dengan membanggakan.


Sekarang? Doski sudah menikah dan memiliki anak yang lucu. Apakah perasaan naksir itu masih ada? Kalau dirasa-rasa, sepertinya perasaan naksir ini sudah berubah menjadi perasaan kagum saja, sesederhana penikmat puisi mengagumi pembuatnya, atau penikmat lukisan mengagumi pelukisnya.


Pengin dengar juga kisah naksir pertama dari orang lain. Kalau ada yang kebetulan baca, dan berkenan sharing, boleh ya cerita di komen. 😘