Friday, December 26, 2025

Pertama Kali ke Luar Indonesia Sendirian

December 26, 2025 0 Comments

Akhirnya tiba juga takdir yang mengharuskan saya ke luar Indonesia sendirian. Kenapa takdir? Karena saya bukan traveling lover yang akan memutuskan solo traveling. 🙂‍↔️ Selama ini tidak pernah sendirian karena selalu bersama rekan kerja. 

Namanya perdana pasti ada overthinking. Takut ada yang ketinggalan, takut nyasar, takut bermasalah di imigrasi,bahkan takut diculik. Berlebihan sih ini 😆


Terus gimana? Berani? Diberani-beraniin dengan mindset ini negara masih tetangga dekat, banyak aplikasi yang membantu kelancaran perjalanan, plus udah save 1 nomer tour guide lokal, kalau-kalau nyasar dan butuh bantuan.



Okee jadi negara tetangganya adalah Thailand 😌 Dekat khaaan.

Wis tekan rek


 Visit Thailand ga perlu pakai visa kalau durasi visitnya kurang dari 6 bulan, jadi untuk visit hanya beberapa hari, lumayan mengurangi peer bikin2 visa. Pantes yaa banyak yg jadiin Thailand sebagai salah satu tujuan wisata. Deket, ga perlu pakai visa, suhu mirip2 Jakarta campur Surabaya, makanan masih cocok di lidah kita orang Indonesia.


Waktu itu sampai di bandara sekitar jam 2an. Dari bandara langsung menuju penginapan. Sebelumnya udah cari-cari aplikasi transportasi, dan ternyata Grab masih beroperasi di sana. Tipsnya lebih mudah naik Grab dibanding Taxi bandara, dan tarifnya kan udah pasti juga ya. Pick up point grab ada di lantai dasar gitu, tepat di seberang pintu keluar bandara. Jarak dari kita pesan sampe abangnya dateng tuh lumayan lama, jadi mending pesan ketika masih dalam bandara dan baru keluar ketika driver sudah dekat. Saya sempat salah strategi malah panas-panasan nunggu abangnya di luar. 🥵


Chat sama driver grab juga ga ada masalah, aplikasi langsung translate bahasa keriting itu ke bahasa Inggris, dan chat kita pun ditranslate ke bahasa keriting untuk abangnya. 🙃


Sampe hotel, check in, ke kamar, rebahan sebentar, dan lapar. 😆 Ada welcome snack buah jeruk gitu. Ehm, ini adalah makanan pertama yang saya makan di Thailand. wehehe. Jeruknya ijo, tapi surprisingly maniis.


Jeruk maniiiis

Sengaja pilih hotel yang sebelahan sama departemen store. Jadi di lantai tertentu itu connecting langsung sama mallnya *dasarmager.


Suasana mallnya hampir sama sih kayak di Indo, toko-toko, ambiencenya. Satu hal yang biasa saya lakukan kalau ke luar Indo adalah jajan di supermarketnya huehe, antata cari cemilan unik, mie2an unik, buah-buahan khas sana, atau beli pernak-pernik. Di supermarketnya menemukan lumayan banyak cemilan unik yang belum pernah lihat di Indonesia. Terus stand bungaaa yang jarang banget ditemui di supermarket Indonesia. 🤩


Super pretty


Carnation

Carnation


Sooooo prettyyyy 😭

Harganya sekitar 40-60k gitu kalo dirupiahkan. Pengin banget carnation sama mawar sih. Huhu.


Selain bunga, ada juga sayuran, entah hidroponik atau aeroponik, tapi dia didisplay gitu masih sama medianya. Jadi kayak lihatnya ijo ijo segerin mata.



Setelah keliling-keliling dan lafar, akhirnya memutuskan mampir di salah satu tempat makan, untuk menyantap makanan berat pertama di mari. Nama menunya vegetarian pork boat noodle. Harga 129 THB, sekitar 65k kalau dirupiahkan.



Dia enak sih, kuahnya kayak kaldu jamur pakai rempah-rempah gitu (tentu saja aroma cilantronya sangad kuat), karbonya ada kuetiaw versi tipis, jamur gendud, bakso dari jamur juga, dan pork palsu dari tepung gitu ya, sayurannya unik, yaitu kangkung tapi batangnya doang, dimana di Indo jarang dipake wkwk. Taburan yang cokelat-cokelat itu kayak tempe goreng.




Buat minumnya, saya pilih es teh rosella, rasanya asem segar tapi lupa pesan less sugar, jadi buat saya agak kemanisan. 





Overall pengalaman makan berat pertama, oke, dari segi rasa. Tapi saya mengalami kejadian yang teledor. Jadi pas belanja di supermarketnya, saya sadar kalau di mari tuh udah banyak transaksi digital/cashless, nah, karena udah terlanjur bawa currency THB, dan malas tukar lagi entar, jadi udah niat mau bayar pakai cash selagi tenantnya bisa cash. Nah ternyata di resto ini bisa cash, jadilah bayar cash pakai THB. Karena pembayaran pertama pakai cash, uang saya tuh masih besar. Kembaliannya banyak, antara unsur kepercayaan atau unsur keteledoran (keknya yang ini sih) pas terima kembalian, tanpa berpikri, langsung masuk dompet. Sampe hotel pas beres-beres, baru nyadar kok kembaliannya kurang sekitar 200 THB (IDR 100k) huaaa. 


Tips buat yang mau belanja pakai cash di luar indo, jangan lupa hitung kembalian yang bener ya pas masih di toko atau restonya, janganlah malas seperti saya.


Besoknya dari penginapan, jalan kaku ke kantor, biar menikmati ambience jalanan (wkwk) dan pengin capture-capture fotoo.





Jalanan cukup bersahabat meskipun cuaca agak gerah, bersih tak ada sampah bertebaran, mau nyeberang juga teratur, ada fasilitas pencet tombol. Pas dipencet, akan ada countdouwn sekitar 20 detik, setelah 0, lampu penyeberangan berubah jadi hijau, dan kita dikasih sekitar 10 detik untuk menyeberang.





Kondisi jalanan ga terlalu berbeda ya dengan di Indonesia. Sama-sama masih keliatan tiang listrik dan kabel-kabel listrik, jalanan juga ada gang-gang kecil, depan SD ada mamang-mamang yang jualan, streetfood banyak banget. Kalau mau jajan street food, musti berhati-hati untuk yang muslim/vege, karena pork di sini sangat lazim, bahkan kemarin nemu abang-abang jualan sate gitu, dan ternyata itu kulit pork. Aromanya sedeeep. wkwk



Terus sempat lihat juga bis-bis kek metromini di jakarta. Bis oyen gitu, classic, tapi ga lihat pengamen 🥸



Sekitaran penginapan, lagi ada festival streetfood gitu, dan perayaan Halloween. 🎃 

 


Banyak banget aneka jajanan mulai dari yang sehat sampe yang gitu deh. Sebenernya pengin nyobain, tapi bingung karena banyak banget, dan ga ada temennya, wkwk. Jadilah cuma menikmati suasana.


Ini kayak bakar-bakaran gitu ya


Pada sibuk gitu, karena baru buka lapak


Karena lagi Halloween, tema di pasar malamnya juga menyesuaikan. Ada tempat foto dan nangkring gitu dengna tema spooky castle. 




Sempet nemu onigiri wakamee. Jarang sekali nemu onigiri kek begini di Indo.





Nah, terakhir, ada satu dish yang saya paling sukaaa, sampe makan 2x. Nama dish nya Stir Fried Cha-om Leaves with Glass Noodle. Dia basenya semacam sohun/glass noodle, chewy dan bening, distir fry pakai telur dadar. Telur dadarnya entah kenapa enak bangeet. Terus yang bikin unik adalah sayurannya, biasa di mari kan kita pakai caisim atau sawi gitu ya, nah ini sayurannya baru pertama kali makan, namanya Cha-om leaves. Teksturnya lebih ke liat, tapi enaaak. Huaa pengin lagiii...

Kusyukaaa


Kurleb seperti itu pengalaman perdana ke luar negeri sendirian (meskipun dekat). Secara sederhana lumayan asyik, tidak dikenali siapapun, bisa merasakan atmosfer yang beda, dan rasa-rasa makanan yang baruu. Terima kasih sudah menyimaak. 🛵✨

Thursday, March 20, 2025

Depresi, Bagaimana Rasanya?

March 20, 2025 0 Comments

 de·pres·sion

noun

feelings of severe despondency and dejection

[perasaan putus asa dan patah semangat yang parah]



Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai proses berpikir, berperasaan dan berperilaku seseorang. Seseorang yang depresi memperlihatkan perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan, disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan.


Itu pengertian depresi yang saya dapat dari hasil browsing. Sebatas itulah pemahaman saya mengenai depresi. Bagi saya depresi adalah kondisi yang abstrak, sebelum saya mengalaminya sendiri pada tengah tahun 2021.


Belakangan ini kita mengalami (kalau boleh disebut) "kebanjiran" informasi. Adanya media/platform seperti instagram, twitter/X, bahkan blog ini pun, membuat kita dengan mudahnya mendapatkan informasi. Informasinya sungguh beragam, mulai dari sekadar berita, hoax atau gosip, hobby, bahkan kehidupan orang lain.


Kita tidak bisa mengatur apa yang orang lain bagikan di media sosialnya. Kita yang bukan subjeknya, menjadi penikmat dan pengkritik sejati (netizen). Saya rasa itulah sebabnya muncul istilah 'selebgram'. Mereka yang pada media sosialnya membagikan kisah kehidupan  -dan kebetulan relevan dengan minat netizen, entah itu karena kerupawanan, kelucuan, kontroversi, atau sekadar mengalami kisah yang mirip- bisa dengan mudahnya menjadi terkenal.


Seyogianya kita memiliki kapasitas untuk mengontrol informasi apa yang kita akses dan berapa lama kita mengaksesnya. Namun, platform-platform itu juga terus berkembang sedemikian rupa sehingga memancing kita kehilangan kontrol. Scrolling yang niatnya hanya mengisi waktu luang 15 menit bisa berakhir menjadi berjam-jam. Saya berani bertaruh, pasti jarang sekali pemilik sosial media yang durasi screen time nya di bawah 4 jam. XD


Saya tidak bermaksud mengkritik, karena saya pun demikian, sampai suatu waktu di pertengahan 2021 saya mengalami depresi. Loh kok bisa scrolling scrolling bikin depresi?


Siang itu saya sedang scrolling instagram, sambil ngaso. Klik sana sini, scrolling sana sini, sampailah saya ke akun seorang wanita, ibu muda berputra 1. Anaknya masih sekitaran 4 atau 5 tahun saya rasa. Wanita ini melalui reels yang singkat membagikan kisahnya melawan penyakit mematikan.


Tanpa rasa bangga, saya mengakui bahwa saya adalah orang dengan empati yang sangat tinggi. Sekelebat saja kisah kehidupan orang yang tak sengaja saya dapat, bisa dengan mudahnya memberikan saya efek balik berupa perasaan yang kemungkinan besar orang itu rasakan. Misalnya ketika melihat orang homeless di pinggir jalanan, seketika saja saya bisa membayangkan rasa aspal panas yang menyentuh kaki dan betisnya, rasa lengket dan bau di badan karena bermandi keringat, tenggorokan yang mencari-cari ludah untuk ditelan karena sangat kering, dan lain-lain. Menyusahkan memang. :(


Kali itu saya melihat reels, gambar bergerak yang tentunya memberikan lebih banyak citra. Sedih sekali melihatnya. Karena termakan perasaan dan penasaran, saya pergi ke profile si wanita ini. Lebih terpukul lagi, karena ternyata dia baru saja meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Saya lihat di profilenya ada highlight/lini masa yang khusus menceritakan awal mula perjuangannya melawan penyakit mematikan itu, sampai akhir ditutup dengan momen kecil bersama anaknya, sekitar 1 hari sebelum dia meninggal.


Mungkin saat itu saya sedang kelelahan, dan iman sedang goyah (haha) sehingga kumpulan story itu berhasil membuat saya terpukul dan benar-benar sedih, lalu berlanjut menjadi kekhawatiran. Awalnya cuma kekhawatiran yg tidak terlalu mengganggu, namun karena tadi itu ya, iman sedang goyah, baru recover dari baby blues. Seperti naga, dari ukuran yg kecil, dalam waktu singkat, kekhawatiran saya berubah menjadi sangat besar, overthinking.


Dalam beberapa hari, pikiran saya semakin parah, khawatir bagaimana kalau hal buruk itu terjadi pada saya, si bocil bagaimana, biaya pengobatannya bagaimana, dan kekhawatiran lain yang tidak masuk akal. Tapi pikiran-pikiran ini berhasil membuat saya terperangkap dalam kekhawatiran, tidak minat menjalani hari, makan tidak ada rasanya (ga napsu makan sama sekali), tidur selalu malam dan gelisah.


Rasanya selalu dingin (bahkan mandi pun sering menggigil), kelam, dan kesepian. Seolah-olah hanya saya yang merasakan, dan tidak bisa bercerita sama orang lain. Desperate, saya minta ibunda datang menemani, tapi tidak terlalu membantu. Mau nonton drakor lucu, minatnya pun tidak ada. Benar-benar payah selama beberapa bulan.


Hingga pada suatu momen, saya berpikir pakai logika karena sudah betul-betul tidak bisa enjoy dengan hidup. 

Apa yang membuat saya depresi? Kekhawatiran


Kenapa khawatir?karena takut sesuatu yang buruk terjadi. Sesuatu yang tidak mampu saya tangani.


Kenapa takut? 

Bukannya kamu percaya adanya Tuhan? Apakah Tuhan pernah memberikan cobaan yang melampaui kemampuan mu? 

Cobaan-cobaan yang kamu hadapi selama ini bukankah bisa kamu lewati semua sehingga kamu sampai di titik ini?

Apakah sudah berdoa dan meminta Tuhan memulihkan overthinkingmu?


Ini bukan posting mengenai hal-hal yang berbau religius. Saya hanya ingin share apa yang saya alami. Tuhan menegur saya melalui kumpulan pertanyaan terakhir yang belum ada jawabannya itu. Saya terhentak dan mulai tersadar bahwa depresi yang saya rasa bersumber dari kekacauan pikiran saya sendiri.


Saya mulai berdoa dan memohon penyembuhan untuk mental saya yang sedang tidak baik-baik saja. Lalu pada suatu siang di kantor saat sedang pumping, saya diarahkan untuk mendengarkan sebuah lagu berikut.


https://www.youtube.com/watch?v=U8EDgciZZFc&pp=ygUPamVzdXMgaXQgaXMgeW91




Di situ saya menangis, benar-benar menangis. Merasa sangat bodoh berpikir overthinking, padahal ada Tuhan yang selalu memperhatikan dan mengasihi saya. Ada kekuatan yang besar, yang mampu menciptakan kita dan menjaga kita. Kenapa meredupkan cahaya kekuatan itu dengan pikiran yang tidak terjadi?


Saya juga sadar, ternyata kita punya 2 opsi. Menjalani kehidupan ini dengan energi positif (sukacita, bersyukur, tersenyum, harapan, persahabatan) atau dengan energi negatif (mengeluh, mengumpat, bersedih, khawatir). 


Sejak hari itu, saya mengatur pikiran saya untuk memilih energi positif. Setiap kali rasa khawatir itu datang, saya mulai bergerak, mencari energi positif, bermain dengan bocil, colek sobat jauh, gelitik suami, dan hal-hal lainnya yang saya yakin akan membuat saya bahagia dan tersenyum.


Beberape pekan kemudian, awan gelap itu sudah sirna. Semuanya kembali cerah, makanan terasa enak, mandi terasa segar, tidur nyenyak, dan saya bisa berbahagia.


Teruntuk pembaca yang mungkin sedang mengalami hal yang pernah saya rasakan juga, depresi. Kembalilah kepada asalmu, kepada kekuatan tak terhingga yang telah menciptakan kita, carilah cahaya dan energi positif di sekelilingmu, pikirkan kembali kenapa harus bersedih, kenapa harus depresi, kenapa marah? kenapa merugi? di saat kita bisa tersenyum, memberikan cinta pada sekeliling, kedamaian dan tawa.