Monday, January 6, 2020

Repotting Tanaman Bunga Vinca (Tapak Dara)

January 06, 2020 2 Comments
Repotting, apa sih itu?

Ketika menanam, terutama menanam dari biji dan sifatnya fast grower, mau enggak mau kita harus melakukan repotting, yaitu memindahkan tanaman dari pot yang sebelumnya memiliki ukuran kecil ke pot yang ukurannya lebih besar. Tapi kadang saya menerima pertanyaan dari teman-teman mengenai cara melakukan repotting. Markicob, mari kita coba lagi.

Kali ini saya akan melakukan repotting untuk tanaman Vinca saya yang sudah waktunya naik kelas. Bulan Agustus lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Jogja menghadiri pernikahan keluarga. Waktu itu saya menginap di sebuah guesthouse minimalis, namanya Omah Sunflower. Saya lumayan suka penginapan ini. Karena letaknya di daerah yang cukup desa, dikelilingi sawah dan angin yang segar. Hehe... Nah, di sekitar penginapan, ada tanaman bunga Vinca, iseng intip, ternyata ada bijinya yang sudah masak. Saya bawa sebagai oleh-oleh untuk diri saya sendiri. Wek...

Saya semai di bulan September, pada bulan Desember, dia sudah mengeluarkan bunga pertamanya!

Tanaman Bunga Vinca

Beberapa minggu setelah mengeluarkan bunga pertamanya, tibalah saatnya untuk dia di-repotting. Salah satu ciri tanaman sudah bisa di-repotting adalah terlihatnya akar di bagian bawah pot. Nutrisi pada pot sudah tidak cukup memenuhi kebutuhan tanaman, sehingga akar terus mencari nutrisi hingga keluar dari lubang pot.

Akar Tanaman Menembus Lubang Bawah Pot
Apa saja bahan dan alat yang diperlukan? Ini dia:
- tanaman yang akan direpotting
- pot yang ukurannya lebih besar
- media tanam

Alat dan Bahan yang Diperlukan


Pot yang sebelumnya memiliki diameter 6 cm, untuk repotting, saya menggunakan pot berdiameter 9 cm, ukurannya lebih besar sedikit untuk menghemat tempat he he he... nanti kalau sudah diperlukan, akan saya repotting lagi ke pot yang ukurannya lebih besar. Pertama-tama, taruh sedikit media pada pot yang besar.


Taruh Sedikit Media untuk Menutupi Lubang Pot

Lalu pot lama berisi tanaman dibalik secara perlahan dengan posisi batang tanaman dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah.

Jepit Batang Tanaman dengan Jari Jemarimyu

Jungkir balik secara perlahan (dikasih alas yaa, biar ga mawur-mawur, saya pakai tray btw).

Balikkan Secara Perlahan
Setelah pot dalam posisi terbalik, dengan tetap menjepit batang tanaman, tekan-tekan atau pencet-pencet pot (nggg... ditepuk-tepuk dikit juga bisa) agar seluruh media lama keluar. Sebelumnya, media dapat dibasahi terlebih dahulu untuk mempermudah. 

Berdasarkan Pengalaman, Lebih Mudah Kalau Medianya Basah
Repotting yang baik, pada dasarnya dilakukan dengan tanpa (atau seminimal mungkin) mengganggu akar tanaman. Jadi, lakukan dengan pelan-pelan yaa, jangan barbar. Hehe... Selanjutnya, tanaman yang sudah ada di telapak tanganmu itu, ditaruh perlahan ke pot baru yang sudah dimasukkan sedikit media tadi. Untuk meningkatkan nilai estetika, tempatkan tanaman di posisi tengah ya.

Letakkan Tanaman Perlahan di Bagian Tengah

Selanjutnya udah gampang nih, kamu tinggal mengisi kekosongan dalam pot dengan media tanam yang baru. Oh ya, media tanam yang saya pakai adalah campuran pupuk organik ee kambing, tanah, dan sedikit sekam mentah. Mix well ya. Setelah potnya sudah berisi full media, selesai deh repotting. Jangan lupa siram dan letakkan di tempat teduh dulu selama 1-2 hari untuk memberi tanaman waktu pulih dari stress akibat repotting. Hohoho...


Voila
Repotting tanaman engga susah kok hehehe... kalau ada yang punya pertanyaan atau saran materi untuk postingan selanjutnya, plis plis tulis di comment. Hehe... Terima kasih telah membaca, jangan lupa dipraktikkan yaa. :)

Sunday, September 29, 2019

Pengalaman Menanam Bunga Verbena dari Benih

September 29, 2019 1 Comments
Berbicara soal Bandung, kota di mana saya paling banyak menghabiskan kehidupan dan waktu, banyak hal yang saya sukai darinya. Selain kota ini paling banyak memuat orang-orang yang saya sayangi (aciee), kota ini juga adalah salah satu kota yang ideal untuk tempat tinggal. Kelembaban udaranya yang cukup, enggak kota metropolitan banget tapi juga enggak susah kalau mau cari sesuatu, orang-orangnya bisa dibilang ramah (salah satu indikasi, kalo kasih senyum pasti disenyumin balik meskipun enggak kenal), makanannya enak-enak (banyak micin soalnya hohoho), dan yang enggak kalah penting adalah suhu udaranya yang manusiawi bahkan bisa dibilang cukup adem. Wah ini penting untuk mendukung aktivitas menanam. Nah, kali ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya menanam bunga Verbena.

Kalau belum familiar dengan bunga Verbena, apakah familiar dengan bunga lantana? Itu loh, yang biasa dijadikan tanaman pengisi border taman. Hehe... bisa search di google yaa bentuknya kayak apa pasti lebih familiar deh. Nah, bunga lantana ini memang termasuk keluarga Verbena. Seseorang memberikan benihnya sebagai hadiah cinderamata dari Australia. Mendengar tempat asalnya, udah minder duluan, skeptis bisa tumbuh di Indonesia. Tapi karena mengingat saudaranya si Lantana bisa tumbuh dengan baik di sini, akhirnya saya coba juga.

Penampakan kemasan dan benih Verbena

Benih yang saya coba adalah brand Mr. Fothergill's, salah satu brand benih favorite memang, karena mayoritas benih yang saya tanam, tumbuh hehe. Udah gitu logonya juga lucu, opa-opa farmer gitu (apasih). Jenis Verbena-nya Verbena Dwarf Compact Mixed. Benih saya semai di media semai yang terdiri dari campuran cocopeat, sekam bakar, tanah, sekam halus, dan sedikit pupuk kompos. Benih saya kubur di media tersebut dengan kedalaman kurang lebih 0.5-1 cm disiram setiap hari pakai sprayer. Dalam kurun waktu 2-3 mingguan (agak lama ya) muncul sprout. Happy banget karena kan awalnya skeptis. Tapi ada yang sedih, seiring berjalannya waktu, beberapa yang sudah sprout malah die entah kenapa sampai akhirnya tinggal 1 tanaman yang berhasil membesar. Tapi ya gitu daunnya kurang oke dan terlihat tidak ada harapan tumbuh sehat. Waktu itu kebun saya tinggal beberapa minggu ke luar kota dan dititipkan kepada ibunda tercinta. Suatu hari, saya mendapat pesan elektronik, bahwa muncul bunga aneh (yang belum pernah ibunda saya lihat). Setelah saya lihat fotonya, barulah ngeh kalau itu bunga verbena (sampe lupa loh karena putus harapan T_T).

Bentuk daun Bunga Verbena Dwarf Compact Mixed
Sampai rumah, langsung deh menengok kebun untuk lihat bunga verbena secara langsung. Kalau dilihat dari bentuk daunnya, agak beda sih dengna lantana yang biasa kita temui di sini. Daun Verbena Dwarf Compact Mixed ini lebih runcing ujungnya dibanding daun Lantana, selain itu daunnya nggak berbau tajam seperti lantana, padahal permukaannya sama-sama kasar dan agak berbulu. 

Bunga Verbena

Nah, kalau dari bentuk bunganya, kurang lebih sama dengan Lantana, hanya saja warnanya yang ini agak lain. Lantana yang biasa saya temui di indonesia warnanya putih, kuning, pink, orange, tetapi Verbena Dwarf Compact Mixed yang berhasil tumbuh ini, warna bunganya ungu!

Tanaman Verbena Dwarf Compact Mixed di Pot Diameter 10 cm

Kalau lihat dari kemasannya sih ya, ada warna lain, yaitu fuschia, maroon dan putih. Pengin coba tanam lagi, jadi ini benih masuk antrian tanam hehehe. Semoga di percobaan selanjutnya, tumbuh juga warna lainnya ya. Oh ya, tanaman ini dirawat oleh ibunda saya seperti tanaman-tanaman lainnya. Kena sinar matahari penuh (full sun), penyiraman sekali di sore hari.

Semoga Next Time Bunga Warna Lain Ikutan Tumbuh Juga

Kalau dilihat berdampingan begini, mirip lah yaa dengan aslinya yang dipajang di kemasan. Hehe... Sayangnya, waktu itu musim hujan, sepertinya tanaman Verbena ini kehujanan dan terlalu lembab, jadinya tidak selamat.(T.T) Besok-besok kalau berhasil, akan kulindungi dari percikan-percikan air hujan. Hehe.

Wajib Coba Tanam!

Yah... begitulah pengalaman saya menanam bunga Verbena. Pelajaran yang bisa dibawa pulang, jangan mudah putus asa dan hopeless mulai dari menunggu sprout sampai memeliharanya. Next time kalau saya berhasil lagi menanamnya, akan saya share lagi yaa di sini. Semoga tidak bosan membacanya dan bisa memotivasi para pembaca untuk juga mencoba menanam. Ehe ehe... Menanam itu menyenangkan! :)



Friday, May 10, 2019

Menyemai, Menanam dan Memelihara Bunga Tagetes (Marigold)Lemon Gem dari Benih

May 10, 2019 2 Comments
Hai hai...
Sudah lama banget ya saya tidak share di sini. Duh... sekarang semakin banyak sih media untuk share, mulai dari twitter, instagram, status, dll. Tetapi entah kenapa paling nyaman memang di sini sih kalau untuk bercerita panjang lebar. Hehehe...

Baiklah, kali ini saya mau share pengalaman selama 2 bulan terakhir dengan Bunga Marigold Lemon Gem. Adakah yang baru pertama kali dengar jenis ini? Hehehe... Sebetulnya saya sudah punya seeds-nya dari lama. Sempat coba semai tahun lalu, tetapi gagal, lalu beralih ke benih-benih lainnya dulu. Eeh... kelupaan, pas beres-beres kulkas, baru keinget lagi punya ini.

Seeds yang saya punya brand-nya Mr. Fothergill's. So far benih brand ini lumayan bisa tumbuh sih, cuma karakter tiap tanaman kan beda-beda ya, jadi perlu menyesuaikan juga dengan mereka.

Seed Tagetes (Marigold) Lemon Gem

Penampakan benih Marigold Lemon Gem, sama aja dengan marigold jenis lain. Ngg... kayak batang-batang kecil gitu, dan warnanya mayoritas hitam, minoritas putih. Kayak serpihan sampah bakaran. ehehehehe... Tetapi khusus Tagetes Lemon Gem ini, ukurannya jauh lebih kecil dibanding teman-temannya kayak French Marigold. Cara menyemainya kurang lebih standar, tidurin, tutup dengan media setebal kurleb 0.5 cm lalu semprot atau siram perlahan setiap hari sehingga kelembaban terjaga. Untuk media sendiri, saya gunakan campuran sekam bakar halus, tanah, dan pupuk organik.

Benih Tagetes Lemon Gem

Sprouting cukup wajar sekitar 10 hari. Dari 3 seeds yang saya semai, tumbuh sebiji doang. Tapi bersyukur banget karena kali ini bisa tumbuh. Hehe... Lalu penampakan seedling (baby) nya seperti ini:

Baby Tagetes Lemon Gem
Seperti tanaman-tanaman lain pada umumnya, fase dari benih ke baby dan dari baby ke siap repotting cukup lama, yaitu sekitar 1-3 minggu. Di sini saya merasa pertumbuhan sangat lambat. Gitu-gitu aja diliat tiap hari. Paling cuma nambah tinggi dikit dan tambah daun. Percabangan belum terlihat.

Baby Tagetes yang Mulai Bongsor
Lalu setelah dirasa akar cukup kokoh dan daun lebih dari 4, saya mulai memberanikan melakukan repotting. Pot yang saya gunakan ukurannya naik dari diameter 7 cm, jadi 13 cm dan plus tatakan, biar ga beleber, karena suka saya tinggal-tinggal jadi siram yang banyak ehehe. Barulah setelah repotting, cabang-cabang baru mulai muncul, dan yang paling bikin seneng, mulai muncul bunga. :3

Duh... dah Mulai Gondrong ya Kamoh
Waktu saya coba foto bunganya, ternyata ukurannya mini banget, ga cuma benihnya yang mini, ukuran bunganya juga jauh lebih mini dibanding teman-teman Marigold lainnya. Nah, waktu tangan saya nyempil-nyempil megang bunganya untuk difoto, ga sengaja nyentuh dedaunannya yang mulai rimbun itu. Dan, ya ampun aromanya enak banget. Kalo kata saya sih beneran lemony. Mild sih, tapi tetep sukaaa. Berasa nyium kulit lemon selewat.

Bunga Pertama, yeay !!!
Lalu, karena mungkin waktu repotting saya menempatkan tanamannya kurang dalam, akarnya jadi kurang kokoh. Pada suatu malam dengan hujan yang deras, batangnya bengkok lalu karena ditinggal, dia jadi etiolasi bengkok-bengkok huahuhahauhahuha... T_T

Lihat deh, masak bunganya ke arah bawah :(
Lalu sebagai pertolongan pertama, karena saya malas repotting lagi (takut layu karena ganggu akar), saya tancepin tongkat penyokong. Dengan bantuan sinar mentari, akhirnya berhasil tegak kembali.

Head to the Sun

Nah, ternyata si Lemon Gem ini akhirnya punya kelebihan, yaitu jumlah bunganya lebih spektakuler dibanding Marigold jenis lainnya. Setelah 1.5 bulan, bunganya gemereyek dan makin harum lemon. Seneng banget lihatnya karena bikin balkon jadi cerah, harum, dan katanya bikin bebas nyamoek.

Ah, senangnya hati adinda :)
Nah, setelah ini, tinggal merawatnya terus, sampai di penghujung usia. Jangan lupa save benihnya untuk tanam di musim selanjutnya.

Anak Hijau yang sudah berbakti :)

Demikianlah pengalaman saya menanam Tagetes Lemon Gem. Gimanaaaa??? Jadi kepingin nyoba gak? Ehe ehe...

Thursday, March 22, 2018

Yuk, Buat Sendiri Kebun Herbs Vintage-mu

March 22, 2018 0 Comments
Selera menanam orang ternyata bermacam-macam. Ada yang hobi menanam aneka jenis bunga, aneka jenis tanaman hias, bahkan aneka jenis sayuran, biar habis ditanam, bisa masuk peyut~

Nah, selain tanaman-tanaman di atas, beberapa pekebun lagi in banget mengoleksi aneka herbs. Herbs itu selain bentuknya macam-macam, satu hal yang saya notice adalah baunya. Heaven! Kebanyakan herbs atau tanaman herbal merupakan golongan tanaman aromatik, yang mengeluarkan minyak atsiri beraroma. Beberapa kalau ditambahkan ke masakan, bikin tambah gembul, karena aromanya jadi enak. :3

Nggak cuma ditaburin ke masakan, herbs ini juga bisa mempercantik kebun rumah kamu. Dengan penambahan dekorasi simpel yang manis, jadi deh. Kalau sekarang saya lagi doyan sama dekorasi yang ala ala vintage. Yuk, bikin yuk.

Sebelum memulai, siapkan senjata dulu. Ini dia, teman berkebun yang mungil. Berguna banget buat masukin media ke dalam pot, merapikan media dalam pot, bahkan buat pemupukan kalau lagi iseng.


Kaki tangan hohoho

Selanjutnya siapkan media tanam. Media tanam yang saya gunakan adalah campuran tanah, cocopeat, sekam, dan pupuk kandang. Karena kebanyakan herbs menyukai tanah yang dingin, jangan lupa tambahkan sedikit sekam bakar. :)

Semua komposisi tadi diaduk secara merata, bisa pakai tangan kalo mau (yang ini bukan jorok, katanya menyentuh tanah sangat berkaitan dengan pengurangan stress karena interaksi kita dengan berbagai mikroorganisme tanah), atau pakai sekop mini kalau mau lebih higienis.


Ini pupuk kandang dari ee kambing :p

Next, adalah pemilihan pot. Untuk membuat tema vintage, sebaiknya kamu memilih pot dengan bahan dasar alami dan penampakannya udah agak-agak dekil dan kuyu, biar lebih kuat kesan vintage-nya. Saya memilih menggunakan pot berbahan baked earth (tanah liat). Percobaan membuktikan, herbs memang menyukai pot berbahan ini. Karena sifatnya yang dingin dan dapat menyerap kelebihan air ketika kita menyiram dengan agak barbar yang dapat menyebabkan kebusukan akar.


Pot terracotta diameter 10 cm
 Lalu, kalau kamu iseng seperti saya, bisa mainkan desain ala ala vintage pada pot. Kali ini saya mengecat pot terracotta dan memberikan tulisan keriting-keriting gemulai ala ala tulisan vintage. Karena kalau bikin poem agak kepanjangan, akhirnya saya cuma tulis nama dari tanaman herbalnya.


Tulisan keriting lunglai ala vintage

Kalau nanti potnya mau ditaruh di balkon atau tempat yang kering, jangan lupa siapkan saucer atau tatakan yow, biar nggak becek dan tetap sedap dipandang mata.


Tambahkan tatakan
 Step terakhir, tinggal repotting tanaman herbal kamu ke dalam pot. Saya sendiri menanam beberapa herbs dalam pot terracotta ini. Diantaranya, white chives (kucai) yang biasanya ibu saya petik-petik buat ditambahkan ke kuah sup, bakso, cream soup, tahu dll. atau bahkan hanya ditumis. Sebetulnya nggak jauh beda dengan daun bawang, cuma lembaran daunnya lebih tipis, dan aromanya lebih ghurih. Hati-hati sama lalat ya, entah kenapa, setiap memasak kucai, selalu mengundang lalat (*meskipun udah mandi).


Chives (kucai)

Next, ada flat parsley. Nah, kalau yang satu ini saya belum terlalu fasih menggunakannya untuk masakan. Karakter daunnya lebih kaku dibanding seledri, tetapi jarang saya gunakan untuk masakan sih. Penggunaannya mungkin lebih ke dressing, bentuk daunnya indah soalnya.



Parsley ada juga yang keritingnya nih. Curly parsley. Sama dengan si flat parsley, yang ini juga jarang saya gunakan untuk memasak. Tapi dia dengan setia menghiasi taman kok, dengan bentuk daunnya yang kribo imut lucu ini. Merawatnya juga nggak sulit. 


Parsley kribo

Next-next ada rosemary. Duhh... yang ini aromanya yahut banget. Membawa khayalan ke tengah kebun dan ladang herbs deh. Ahh... Saya lebih suka ngelus-ngelus terus dibauin, dibanding memakannya. Ohya, yang ini katanya bisa ngusir nyamuks, a.k.a. mosquito repellent. :3
Tanam yang banyak deh...


Rosemary dalam pot terracotta


Selain pakai pot terracotta, saya coba juga pot jenis lain, yaitu pot kaleng. Sepintas mirip-mirip ember gitu. Tapi sayangnya belom karatan ini, jadi agak-agak kurang vintage. Tapi tetep ciamiks kok. :) Kelemahannya, karena bahannya kaleng, jadi tidak bisa menyerap kelebihan air seperti si pot terracotta. Jadi, jangan lupa beri lubang di bagian dasarnya, atau bisa coba alternatif dengan pakai pot dalam berlubang, dan si pot kaleng jadi pot luarnya. Kelebihan air bisa dibuang secara berkala.


Rosemary dalam pot kaleng

Step terakhir, tinggal ditata di meja, balkon, atau dimanapun. Beberapa orang yang dapurnya tersorot sinar, bisa menaruh pot-pot herbs di windowsill atau area dekat tap water dan washbasin, sehingga kalau masak dan butuh rempah, gaperlu jauh-jauh ke taman, tinggal petik aja yang dekat. Mau siram, tinggal kucurin tap water. Mhuehehehe...


Jajajaaaa...

Sekian DIY vintage herbs garden yang sudah pernah saya coba. Yuk kalian coba juga. Selain untuk diri sendiri, mereka bisa dijadikan hadiah untuk orang tersayang yang suka masak, atau suka berkebun.

Let's give it a try : )

Wednesday, December 13, 2017

Berkunjung ke Kebun Bunga Grace Rose Farm Yuk!

December 13, 2017 2 Comments
Nyadar nggak sih, aktivitas kita di weekdays sebagai orang produktif itu cukup membosankan?
Bangun pagi, sarapan, bekerja atau mengurus rumah tangga, lalu kelelahan, besoknya begitu lagi. Saya juga merasa demikian, sehingga betul kata quotes-quotes itu, katanya kita harus mengisi weekend kita dengan kegiatan-kegiatan yang bisa mengisi ulang jiwa kita (*tsah) dengan apasaja yang kita sukai sehingga ketika hari Senin datang, kita sudah terisi penuh dengan semangat baru. Nah, karena saya suka tetumbuhan dan tetananaman, akhir pekan saya khususkan untuk kegiatan-kegiatan yang saya sukai berkaitan dengan tanaman dan tumbuhan. Main tanah, menanam ini itu, merawat tanaman, dll. Daan, salah satu yang patut dicoba adalah berkunjung ke kebun bunga. : )
Salah satu yang bisa menjadi bahan pertimbangan adalah Grace Rose Farm.

Toko Souvenir Mini di Grace Rose Farm

Saya sendiri baru tahu tempat ini (mungkin karena kurang gaul). Terletak di bagian utara Kota Bandung dekat dengan Curug (air terjun) Cimahi, menjadikan tempat ini cucok sekali untuk menanam bunga-bunga, yang mana sangat menyukai tanah yang dingin dan sinar matahari penuh.


Bunga Calibrachoa yang Cantik
 Memasuki pintu masuk, Anda akan diminta membayar sebesar 25 ribu rupiah kalau tidak salah  ya. Di pintu masuk ini, selain ada loket karcis (kok kayak jaman dulu), mata sudah disuguhi pemandangan syantik dari bunga-bunga yang berwarna-warni. Salah satunya bunga Calibrachoa a.k.a. small petunia a.k.a. million bells ini.



Ladang Bunga Potong
Jangan tertipu dengan pintu masuknya yang mini, setelah melewati pintu masuk, kamu akan bisa melihat-lihat sepuasnya kesana kemari sambil menghirup udara segar tanpa asap dan polusi. Yang unik disini, kamu bebas berjalan-jalan kemana saja, asalkan menjaga kelakuan. Jangan menginjak tanaman, jangan memetik bunga, jangan merusak properti, jangan buang sampah sembarangan.

Ladang Bunganya Luas Sekali Yap?
Nggak cuma itu, kamukamu yang suka film Bollywood dan ingin merasakan serunya berlari-lari di ladang bunga, bisa kok. Ladangnya luaaas sekali, bisa lari kesana-kemari deh pokoknya. Eh, jangan lupa pakai losyen dan topi ya. Terutama kalau jalan-jalannya di musim panas.


Gerbera Daisy yang Masih Kuncup
Di sini banyak juga green house-nya. Green house berfungsi melindungi tanaman dari serangan hama dan cuaca yang ekstrim. Gerbera Daisy ini juga ditanam di dalam green house loh.


Hydrangea yang Menawan
Sempat juga berkunjung ke green house yang isinya bunga hydrangea. Bunganya besar, kayak pom-pom nya cheerleader.


Warna bunga Hydrangea tergantung dari keasaman tanahnya
Kalau inget pelajaran tentang asam basa waktu jaman SMA, pasti tau nih, kenapa bunga-bunga hydrangea ini warnanya macam-macam begitu.


Green house hydrangea

Tillandsia
Selain bunga, banyak juga loh Tillandsia disini. Ituloh tanaman udara (airplant) yang tidak membutuhkan tanah untuk hidup. Kalau kamu mau coba menanam tapi malas menyiram, dan malas kotor-kotoran, Tillandsia ini patut dicoba. Cukup disemprot dan ga perlu main tanah.


Aneka bunga mawar
Grace Rose Farm ini menerima pesanan bunga potong segar. Karena dipotong langsung dari kebunnya, bunga-bunganya cantik dan segar-segar. Kalau jalan sama pacar kesini, jangan lupa minta dibelikan yaa. Mhuehehehe...


Aneka Succulent

Ouw iya, satu lagi tanaman lucu yang patut dipertimbangkan untuk dipelihara karena perawatannya ga ribet, adalah succulent. Banyak juga loh succulent nya di sini. Harganya terjangkau, mulai dari 15 ribuan aja.


Bunga mawar yang warnanya jarang

Nah, kalau yang ini bunga petunia

Gerbera Daisy yang sudah mekar menyapa dunia
Gerbera Daisy katanya termasuk penyerap polutan di udara loh. Dudududu, udah cantik, ada fungsinya lagi. Bisa banget nih kamu tanam ini di halaman depan rumah.


Warnanya bikin silau

Ahh... cantik syekaliii

Ladang bunga Gerbera Daisy

Bunga petuniaaa

Bunga Calibrachoa lagiii

Pansy
Pernah mencoba menanam bunga Pansy, dari 5 percobaan, baru sekali yang berhasil. Belum menemukan chemistry-nya nih. Setiap tanam, selalu mati sebelum besar. Coba deh menanam Pansy (Viola), bunganya cantik dan mungil.

Pansy Lagi

Pansy

Green house sayuran
Ada green house yang isinya sayuran juga loh. Tapi kebanyakan ditanam dengan sistem hidroponik. Kamu bisa cari tahu, perjalanan tanaman dari kecil jadi besar dengan metode tanam hidroponik. Kebanyakan sih kangkung, aneka sawi dan selada.


Nasturtium Empress of India
Selalu gereget kalau lihat bunga nasturtium. Masalahnya gapernah bisa menanam sampai jadi sebesar ini. Lihat deh di foto bawah, tanamannya segede apa.


Nasturtium segede jerapah

Bunga cosmos putih
Eh iya, kalau kamu suka bunga juga, dan pengen mencoba menanam bunga dari benih (biji), cobain deh si cosmos ini. Mudah banget tumbuh, dalam waktu 6 minggu bahkan sudah bisa berbakti memberi bunga. : )
Cosmos pink

Cosmos pink dan fuschia

Sunflower <3 td="">

Sunflowernya hepi hepi nih di sini

Tinggal pasang posisi di tengah situ sambil berpose dramatis, lalu cekrek

Langsung terngiang lagu Kuch Kuch Hota Hai gini

Blissful


Gladiol

Carnation a.k.a. Anyelir

Ladang Anyelir


Kupu-kupu

Karena banyak sekali bunga, maka jangan heran kalau kamu lihat banyak kupu-kupu. Bukan main, kupu-kupu disini warnanya cantik. Beda dengan kupu-kupu di kota yang warnanya putih, hitam, abu-abu melulu.


Lalalalala...

Calibrachoa berwarna shocking pink

Oh Calibrachoa
Sepulang dari sini, jangan lupa membeli 1 atau 2 tanaman untuk dirawat yaa. Menanam itu menyenangkan dan menyehatkan. Bantu dunia menghasilkan oksigen. Oh ya, setiap tiket yang dibayar, sudah termasuk souvenir berupa succulent mini. Jadi kamu tidak pulang dengan tangan hampa  : )